Lifestyle

Suku Dayak: Tato, Ritual, Mistis dan Roh Jahat

Suku dayak menganggap tato sebagai sesuatu yang sakral. Ya, tak hanya sebagai penanda identitas, mereka percaya tato bisa melindungi dari roh jahat.


Suku Dayak: Tato, Ritual, Mistis dan Roh Jahat
Tato suku Dayak (GETBORNEO.COM)

AKURAT.CO, Selama ini, tato diidentikkan dengan budaya pop dunia. Akan tetapi, tato ternyata sudah ada di Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Ya, suku Dayak yang ada di Kalimantan sudah mengenal tradisi tato sejak 1500-500 SM. Tradisi ini diwariskan turun-temurun hingga kini. Tato pada suku dayak disebut “tutang”.

Pada mulanya, tato digunakan sebagai identitas suku saat terjadi perang suku (mengayau). Namun, perlahan makna tato berkembang menjadi sebuah tanda status sosial dan kedewasaan. Tato juga bisa menjadi tanda bahwa pemiliknya telah melakukan sesuatu yang besar ataupun hebat.

Akan tetapi, tato tidak sekadar simbol dan identitas saja. Bagi suku Dayak, tato adalah sesuatu yang sakral. Bahkan, suku Dayak percaya bahwa tato akan melindungi mereka dari roh jahat.

Suku Dayak meyakini bahwa roh jahat adalah penyebab malapetaka dan sakit. Roh jahat akan menganggu siapapun yang telah merusak keseimbangan sosial dan alam, atau telah melakukan hal yang melanggar norma, moral dan sopan santun.

Setelah sembuh, orang tersebut akan ditato berbentuk tanaman pada lengan tangannya untuk menangkal roh jahat kembali lagi, dan sebagai tanda untuk introspeksi diri.  Masyarakat suku Dayak juga banyak yang memiliki tato pada bagian atas dan bawah bahu menggambarkan daun pohon pinang. Tato ini merupakan senjata ampuh menangkal berbagai serangan roh jahat.

Tak hanya itu saja, dikutip dari getborneo.com, menurut kepercayaan suku Dayak, tato berwarna hitam di tubuh mereka juga akan berubah menjadi warna emas. Setelah mereka tiada dan melalui upacara Tiwah, tato yang telah berubah warna tersebut akan menjadi penerang jalan menuju keabadian.

Saking sakralnya tato bagi suku Dayak, pembuatan dan peletakan pun tidak boleh dilakukan sembarangan. Tato suku Dayak umumnya diambil dari alam, dan setiap motif tato memiliki arti berbeda-beda. Ada tiga motif tato yang biasa digunakan, ketiga motif ini mewakili  dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Motif burung enggang, bulan dan matahari mewakili dunia atas. Dunia tengah disimbolkan dengan pohon kehidupan. Sedangkan ular naga menjadi simbol dunia bawah.

Namun, motif-motif tersebut tidak boleh sembarangan dipakai. Sebab, motif ini membedakan status sosial. Kaum bangsawan, keturunan raja, kepala adat, kepala kampung, dan pahlawan perang. berhak menggunakan motif dunia atas. Sementara masyarakat biasa hanya dapat memiliki tato dengan motif dunia tengah dan bawah.

Selain itu, motif tato untuk laki-laki dan perempuan juga dibedakan berdasarkan bentuk dan tujuannya. Umumnya, perempuan Dayak hanya bertato di tangan dan kaki, beda dengan laki-laki yang bisa memiliki tato di sekujur tubuhnya.

Berikut Akurat.co rangkum beberapa motif tato untuk laki-laki dan perempuan suku Dayak:

Laki-laki

  • Motif bunga terung atau terong melambangkan lelaki pekerja keras bagi keluarga. Motif ini biasanya digambar di bagian pundak. 
  • Motif muka harimau biasanya di letakkan di bagian paha menunjukkan status sosial yang tinggi bagi pemiliknya.
  • Tato Ukir Rekong terletak di leher berfungsi untuk memberikan kekuatan pada tenggorokan atau berfungsi sebagai pelindung agar tidak di penggal oleh Mandau musuh.

Perempuan

  • Tato Tedak Kassa terletak dikaki, menandakan bahwa perempuan tersebut telah dewasa.
  • Tato Tedak Usuu dan Tedak Hapii terletak di tangan berfungsi sebagai penjaga dari roh-roh jahat.

Sebelum melakukan penatoan, biasanya dilakukan proses ritual, yaitu berdoa kepada leluhur satu hari sebelumnya. Proses ini biasa disebut dengan Mela Malam. Selain itu, ketika pembuatan tato, para keluarga biasanya dilarang keluar rumah agar tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa pemilik tato. Pada saat proses penatoan telah selesai, biasanya diadakan perayaan untuk menghindari hal-hal buruk terjadi.

Tato suku Dayak ini dibuat dengan bahan-bahan sederhana. Tinta tato dibuat dari arang kayu damar, dihaluskan dan dicampur dengan minyak tradisional yang diracik sendiri. Sementara untuk jarumnya, suku Dayak  menggunakan tangkai pemukul dari kayu yang disebut Lutedak.

Di ujung kayu, ada jarum tato. Jarum dicelupkan ke tinta dan digerakkan mengikuti motif yang sudah tercetak di kulit. Sebelum mengenal jarum, suku Dayak membuat tato menggunakan duri dari pohon jeruk.[]