Lifestyle

Tradisi Pemilihan Pemangku Adat Kenduri Sko dari Orang Kerinci

Kenduri sko merupakan tradisi turun temurun paling besar bagi masyarakat Kerinci. Pada awalnya perhelatan kenduri sko rutin dilakukan setelah panen raya


Tradisi Pemilihan Pemangku Adat Kenduri Sko dari Orang Kerinci
Suasana tari iyo-iyo saat perhelatan kenduri sko, yang disenggelarakan lima tahun sekali. (Instagram/hendi.fresco)

AKURAT.CO, Masyarakat Kabupaten Kerinci, Jambi, memiliki berbagai tradisi yang hingga saat ini masih ada. Salah satunya, Kenduri Sko yang merupakan tradisi turun temurun paling besar bagi masyarakat Kerinci.

Pada awalnya, perhelatan Kenduri Sko adalah upacara adat yang rutin dilakukan setiap tahunnya, sehabis masa panen raya.

Namun seiring berjalannya waktu dan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, perhelatan Kenduri Sko mengalami perubahan waktu pelaksanaan menjadi 5 tahun sekali.

Menurut Jurnal yang ditulis oleh Asvic Helida, dkk, dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tradisi Kenduri Sko bertujuan untuk pengukuhan tokoh adat seperti depati, ninik mamak dan hulu balang, untuk mengganti pemangku adat yang harus berhenti.

Depati diganti dikarenakan beberapa hal yaitu meninggal dunia, faktor usia, tidak dapat menjalankan tugas dengan baik, dan dipecat karena melakukan kesalahan adat. Kesahalan yang bisa membuat depati dipecat misalnya melakukan tindakan yang tidak adil, kekerasan dan tindakan yang melanggar hukum adat lainnya.

Setelah itu, jantan (laki-laki), anak batino (perempuan), Ninik Mamak di daerah yang bersangkutan melakukan rapat untuk memecat depati tersebut.

Gelar depati adalah untuk orang yang mumpuni dan pandai. Depati bisa disetarakan dengan raja. Setiap kampung di Kabupaten Kerinci mempunyai sebutan depati yang berbeda-beda, tapi tugasnya sama yaitu memutuskan perkara.

Dalam istilah Kerinci, memutus adalah yang memakan habis, memenggal putus dan membunuh mati. Segala perkara di masyarakat (misalnya sengketa tanah) yang sampai kepadanya dan diadili di rumah adat, keputusannya tidak bisa dibantah oleh siapapun. 

Peraturan dan hukuman yang ditetapkan tidak menyimpang dari hukum adat. Tugas Depati dibantu oleh Ninik Mamak.

Pelaksanaan Kenduri Sko ini terdiri dari beberapa tahapan. Pertama, musyawarah atau rapat memilih orang yang akan diberi gelar depati. Rapat ini dihadiri oleh tokoh adat, alim ulama, cerdik pandai, serta masyarakat.

Pada musyawarah tersebut, juga membahas waktu pelaksanaan, biaya, dan membentuk panitia pelaksana. Biaya Kenduri Sko ini berasal dari anak batino. Semua biaya dihitung, lalu dibagi rata oleh anak batino dalam keluarga. 

Kedua, menurunkan benda-benda pusaka. Benda-benda pusaka tersebut disimpan di dalam peti dan diletakkan di atas ptaih (tempat khusus di atas loteng berupa ruangan kecil). Menurunkan benda-benda pusaka ini dengan menyediakan sajian, yaitu berupa nasi putih, telur ayam, air limau, dan lain-lain.

Kemudian orang yang berkepentingan berkumpul di rumah itu. Orang tersebut dikawal oleh anak laki-laki naik ke atas loteng yang diiringi oleh asap kemenyan. Peti diambil dan dibawa dengan hati-hati, saat di pintu loteng disambut oleh ketua adat, serta diiringi dengan tari iyo-iyo dari kaum perempuan.

Setelah benda-benda pusaka itu dibersihkan dan diperlihatkan kepada orang yang hadir, benda-benda tersebut dimasukkan kembali ke dalam peti dan dikunci.

Ketiga, penobatan gelar sko ini dilakukan di atas piagam. Orang yang berhak menerima gelar merupakan orang pandai dan cerdas. Setelah acara penobatan gelar adat, malam harinya digelar acara hiburan-kesenian. Awalnya, hiburan pada malam kesenian adalah berupa nyanyian khas daerah Kerinci yang diiringi rebab dan gendang. Namun, kemudian berubah dengan organ dan alat kesenian modern. 

Menjelang tengah malam waktu setempat, dilakukan 'pemanggilan roh-roh orang gunung' melalui ritual adat yang dipimpin oleh tokoh adat berupa nyanyian dan tarian. Tarian yang mengiringi pemanggilan tersebut adalah tari tauh yang ditarikan oleh semua anggota masyarakat yang hadir terutama kaum muda-mudi.  

Tari tauh digunakan untuk menghormati mereka yang dikukuhkan sebagai orang adat dan memuliakan tamu-tamu yang datang. Dalam 'pemanggilan orang gunung' banyak penari yang sampai hilang kesadaran. Tidak hanya penari, penonton pun ada yang kehilangan kesadaran.

Keempat, diakhiri dengan makan bersama atau masyarakat Kerinci menyebutnya minum kawo antara pemimpin adat dengan masyarakat.

Pada acara makan bersama, ada makanan khas yang selalu tersedia saat Kenduri Sko berlangsung yakni lemang. Namun, pembukus lemang untuk tradisi ini berbeda, yakni menggunakan tumbuhan kantong semar sebagai wadahnya, yang masyarakat Kerinci sebut dengan kancung beruk. Aroma dan rasa yang diberikan dari kantong semar membuat lemang saat Kenduri Sko berbeda dengan lemang yang lainnya.[]