Lifestyle

Tradisi Cheng Beng, Penarik Wisatawan ke Bangka Belitung

Cheng Beng adalah tradisi berziarah ke makam leluhur yang dilakukan oleh etnis Tionghoa setiap tahun, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.


Tradisi Cheng Beng, Penarik Wisatawan ke Bangka Belitung
Tradisi Cheng Beng di Bangka Belitung (penghubung.babelprov.go.id)

AKURAT.CO, Tradisi Cheng Beng atau Qing Ming adalah simbol wisata religi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berbeda dengan daerah lain, tradisi Cheng Beng di Bangka Belitung dibalut dalam festival budaya bertajuk Bangka Culture Wave (BCW).

Selama dua pekan, BCW akan menampilkan beragam pertunjukan seni dan budaya asli Bangka. Puncak acara BCW dan ritual Cheng Beng pun digelar pada hari yang sama, yakni 5 April. 

Event Bangka Culture Wave sendiri memang diilhami dari tradisi Cheng Beng. Menjelang Cheng Beng, etnis Tionghoa yang berada di perantauan kembali ke Bangka Belitung. Momentum ini pun dikembangkan hingga lahir BCW. 

Tradisi Cheng Beng, Penarik Wisatawan ke Bangka Belitung - Foto 1
Tradisi Cheng Beng di Bangka Belitung penghubung.babelprov.go.id/

Adapun Cheng Beng adalah tradisi berziarah ke makam leluhur yang dilakukan oleh etnis Tionghoa setiap tahun, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Dalam bahasa Mandarin, Cheng berarti cerah, sementara Beng memiliki arti terang. 

Puncak tradisi Cheng Beng dilakukan pada 5 April atau 4 April pada tahun kabisat. Sepuluh hari sebelum puncak ritual, warga Tionghoa akan melakukan sejumlah persiapan, seperti membersihkan, mengecat dan menghias makam leluhur. Makam yang sudah dibersihkan, diberikan kertas kuning sebagai tanda. 

Satu hari sebelum acara puncak, seluruh peralatan sembahyang dan berbagai macam makanan yang akan disajikan sudah harus disiapkan. Sementara, puncak acara dilakukan sejak pukul 02.00 dini hari hingga fajar dengan melakukan sembayang dan meletakan sesajen berupa tiga macam buah-buahan (Sam Kuo), tiga macam daging (Sam Sang), sayuran (Cai Choi), arak, aneka kue.

Tak lupa pula, diletakkan kim chin (uang palsu kertas) di atas tanah makam sembari memanjatkan doa, serta membakar garu (hio) sambil diiringi alunan musik Belaz Band atau Tanjidor.

Prosesi Ceng Beng ini biasanya berlangsung selama kurang lebih 60 menit. Tidak hanya leluhur, makam dari keluarga dekat juga ikut diziarahi, seperti ayah, ibu, adik, kakak, maupun nenek atau kakek yang telah meninggal.

Bagi etnis Tionghoa, ritual Cheng Beng adalah momen penting yang tidak boleh dilewatkan. Oleh sebab itu, mereka akan kembali ke kampung halaman untuk berziarah ke makam leluhur.

Konon, tradisi ini bermula kala Cu Guan Ciong (Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming) tidak bisa menemukan makam orang tuanya. Sejak menjadi kaisar, Cu Guan Ciong kerap memimpin pasukan untuk pergi berperang melawan musuh dalam jangka waktu yang lama. Pada saat perang berakhir, Cu Guan Ciong pulang ke kampung halamannya namun tidak bisa menemukan makam orang tuanya. Penduduk desa pun tidak mengetahui tentang keberadaan makam orang tua Cu Guan Ciong

Sang kaisar lantas memerintahkan prajuritnya untuk mencari makam orang tuanya, namun usahanya itu tidak membuahkan hasil. Dia lantas meminta memerintahkan seluruh rakyatnya untuk berziarah, membersihkan makam leluhur masing-masing serta menempelkan Kertas Lima Warna (go sek cua)  sebagai tanda.

Setelah itu, Cu Guan Ciong mencari makam yang belum ditempeli Kertas Lima Warna. Tak disangka, Cu Guan Ciong berhasil menemukan dua buah makam yang belum memiliki kertas warna. Dia pun berasumsi bahwa itu adalah makam orang tuanya. Cu Guan Ciong membersihkan dan memberi penghormatan di makam tersebut. Sejak saat itu, tradisi memberishkan makam berlangsung hingga sekarang.[]