Lifestyle

Tradisi Batagak Kudo-kudo, Cerminan Nyata Sikap Gotong Royong Orang Minang

Batagak kudo-kudo adalah tradisi gotong royong masyarakat Padang Pariaman, Sumatera Barat dalam membangun rumah, masjid dan fasilitas umum lainnya.


Tradisi Batagak Kudo-kudo, Cerminan Nyata Sikap Gotong Royong Orang Minang
Sumatera Barat - Tradisi Batagak kudo-kudo (UNSPLASH)

AKURAT.CO, Masyarakat Padang Pariaman, Sumatera Barat, sangat lekat dengan tradisi gotong royong. Hampir segala aspek kehidupan dilakukan bersama-sama, termasuk dalam membangun sebuah rumah, ataupun fasilitas umum seperti rumah ibadah, jalan raya dan lain-lain. 

Ini disebut tradisi batagak kudo-kudo. Tradisi ini telah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu dan masih diteruskan dan dilakukan di Tanah Minang hingga saat ini. Melansir budaya-indonesia.org, istilah batagak kudo-kudo sendiri diambil dari Bahasa Minang yang berarti menegakkan kuda-kuda.

Dalam pelaksanaannya, upacara batagak kudo-kudo meliputi musyawarah, mengundang, malam mambungkui, penyambutan tamu, laporan pembangunan, batagak kudo-kudo dan bajamba (makan bersama dalam suatu ruangan), dikutip AKURAT.CO pada Jumat, (5/11/2021).  

baca juga:

Awalnya, masyarakat akan melakukan musyawarah terkait lokasi, ukuran, serta kapan waktu acara atau pengerjaannya dilakukan. Kemudian, mereka akan mulai mempersiapkan bahan bangunan, termasuk kayu yang akan dijadian sebagai tiang. Kayu yang akan dijadikan tiang biasanya akan direndam terlebih dahulu di dalam lumpur atau bisa juga kayu dioleskan dengan minyak solar.

Tujuannya supaya kayu tidak mudah lapuk atau dimakan oleh rayap. Pada hari yang ditentukan, tiang tersebut akan didirkan (batagak tiang), kemudian para tukang akan mulai menyusun batu bata dan memulai pembangunannya atau biasa disebut dengan kudo-kudo.

Lalu upacara terakhir dilakukan batagak kudo-kudo yakni memasuki rumah. Kegiatan ini dilakukan setelah rumah telah dibangun. Pemilik rumah akan menjamu para undangan, meyampaikan laporan pembangunan, dan berdoa bersama sebagai petanda ucapan rasa terima kasih kepada semua masyarakat dan rasa syukur kepada Allah.

Dengan batagak kudo-kudo ini pembangunan tidak hanya selesai dengan cepat tapi juga mempererat tali silaturahmi sesama masyarakat.

Batagak kudo-kudo minangkabaunews.com

Tetapi saat ini batagak kudo-kudo lebih sering dilakukan saat rumah telah selesai dibangun dan hanya meninggalkan bagian atapnya saja. Pemilik rumah akan mengundang sanak keluarga dan tetangga sekitar. Tidak datang dengan tangan kosong, mereka biasanya akan membawa berbagai macam hadiah. Mulai dari uang hingga bahan-bahan bangunan, seperti seng untuk pembangunan atap. 

Selain itu, ada beberapa barang-barang yang wajib disediakan, meliputi pisang lidi satu tandan, carano atau tempat sirih, dua buah kelapa bertunas, daun kelapa muda yang dijalin, payung, serta memakai baju adat.  Setiap barang yang dibawa melambangkan sesuatu dan memiliki arti. Misalnya, pisang lidi satu tandan merupakan simbol persatuan. Dengan ini, pemilik rumah nantinya akan selalu bersatu dan kompak.

Sementara, baju adat merupakan bentuk harapan agar pemilik rumah selalu memahami adat istiadat. Pemilik rumah juga akan menyiapkan panganan mulai dari camilan, minuman, hingga nasi lengkap dengan lauk pauknya. Makanan yang umumnya ada di upacara ini, yakni gulai ayam, pangek ikan, samba campua-campua, gulai cubadak, dan banyak lagi.[]