News

Topan Super Surigae Terjang Filipina, Satu Tewas dan 109 Ribu Orang Mengungsi

Angin topan super surigae yang menerjang Filipina membuat 1 orang tewas, 1 hilang, dan ribuan orang lainnya melarikan diri dari rumah


Topan Super Surigae Terjang Filipina, Satu Tewas dan 109 Ribu Orang Mengungsi
Ombak menghantam pantai saat Topan Super Surigae bergerak mendekati Filipina di provinsi Catbalogan, Samar, pada Minggu (18/4) (DJ RJ RENE CASTINO via REUTERS)

AKURAT.CO, Setidaknya satu orang tewas, satu hilang, dan ribuan orang lainnya melarikan diri dari rumah mereka setelah Topan Super Surigae mendekati provinsi timur Filipina sejak Minggu (18/4) waktu setempat.

Diwartakan Bangkok Post hingga CNA, satu korban yang tewas itu adalah seorang pria 79 tahun. Ia meninggal karena cedera kepala parah akibat tertimpa pohon yang tumbang di provinsi Leyte di Filipina tengah, seperti tercantum dalam laporan badan penanggulangan bencana pada Minggu. 

Sementara yang berhasil dievakuasi kini jumlahnya mencapai hingga 109 ribu orang. Mereka berasal dari enam provinsi di Bicol, wilayah yang sering dilanda topan. 

Sebelumnya, banyak ahli serta lembaga biro cuaca yang sudah memperingatkan dahsyatnya angin Surigae atau juga biasa disebut sebagai Bising. Salah satunya termasuk Pusat Peringatan Topan Gabungan AS yang menyebut bahwa Surigae adalah topan super dengan kecepatan angin mencapai hingga 165 knot (305 km/jam).

Disebutkan pula bagaimana Surigae ini akan menjadi topan super pertama pada tahun 2021 ini. 

Selain itu, diramalkan juga bagaimana Surigae tidak bakal menghantam daratan, tetapi bagian timur Samar akan mengalami banjir. Ini terutama karena diameter angin itu mampu menyentuh 500 km  dan kecepatannya setidaknya mencapai 195 km/jam.

"Indikasi awal adalah bahwa musim topan 2021 akan memiliki aktivitas rata-rata, dan mungkin (juga) di atas rata-rata," kata ahli meteorologi AS Jeff Masters ikut memberi peringatan di situs web Yale Climate Connections.

Sementara, para ilmuwan atmosfer mengungkap bahwa badai yang disebut topan, siklon, atau angin topan di berbagai belahan dunia, semakin kuat karena pemanasan global. Mengingat, atmosfer yang lebih hangat telah menahan lebih banyak kelembapan, dan memungkinkan angin kencang untuk membuang lebih banyak hujan. Secara khusus, suhu air di Samudra Pasifik bagian barat lebih tinggi dari rata-rata global, menjadikannya lahan subur untuk badai besar seperti Surigae.

Imbasnya, wilayah itu akhirnya mengalami lebih banyak badai daripada bagian dunia lainnya, dengan lebih dari 70 persen di antaranya berkembang pada puncak musim antara Juli dan Oktober.

"Bahan bakar untuk badai ini adalah lautan yang hangat. 

"Tren globalnya adalah mereka semakin kuat, dan persentase total badai yang lebih tinggi akan semakin kuat," terang Anne-Claire Fontan, seorang petugas ilmiah dari Organisasi Meteorologi Dunia yang berbasis di Jenewa.

Setelah peringatan tersebut, pada Senin (19/4) hari ini, biro cuaca nasional Filipina mengonfirmasi adanya angin kencang, ombak tinggi, dan hujan lebat. Dikatakan pula bahwa angin topan Surigae ini bisa memicu kerusakan yang meluas hingga 110 km dari pusat badai.

Terlepas dari topan Surigae, Filipina memang kerap menjadi tempat persinggahan bagi badai tropis. Saban tahunnya, negara ini bahkan tercatat bisa dilewati setidaknya hingga 20 topan, dan karenanya mereka acap kali harus menderita karena dampak luar biasa dari terjangan topan.

Tahun lalu misalnya, Filipina dihantam topan Goni dengan kecepatan hingga 310 km per jam. Akibatnya, 25 orang tewas dan lebih dari 345 ribu orang mengungsi. Lalu, pada tahun 2013, Filipina dipukul topan Haiyan dengan korban tewas mencapai lebih dari 6.300 orang. Sementara, 11 juta orang lainnya kehilangan tempat tinggal.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu