News

TKN Jokowi Sebut Analisa Menara Digital Network Tak Masuk Akal


TKN Jokowi Sebut Analisa Menara Digital Network Tak Masuk Akal
(Kiri ke kanan) CEO Menara Digital Network Anthony Leong bersama Benny Pasaribu dari TKN dan Miftah Nur Sabri dari BPN saat merilis hasil survei Big Data Menara Digital Network di Menara CIMB Biaya, Kawasan Sudirman, Jakarta Selatan (11/4/2019). Pada Pilpres ini, Menara Digital Network melakukan olah big data, dengan anaalisa dan pendalaman yang mencakup; Jumlah percakapan dan topic pembicaran di media sosial, sentiment di media sosial, SNA dan wilayah persebaran percakapan dan algoritma intern (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Hasil analisa dan prediksi dari Menara Digital Network soal Pilpres 2019 disebut tidak masuk akal.

Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Capres-Cawapres Nomor Urut 01 Jokowi-Ma'ruf, Benny Pasaribu, saat menanggapi hasil analisa Menara Digital Network yang menunjukkan bahwa pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapatkan suara 55,6 persen, sedangkan Jokowi-Ma'ruf 44,4 persen. Hal itu berdasarkan hasil pengumpulan big data di internet yang dilakukan Menara Digital Network.

"Kalau big data ini bisa kita terima, tidak debatable, karena itu kerjanya mesin. Tapi kalau sudah bicara analisis dan kesimpulannya, menurut saya masih tidak masuk akal. Tidak akademik, loncat, masa tiba-tiba Prabowo menang, Jokowi kalah," ungkapnya di Graha CIMB Niaga, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

Benny mengatakan, hasil analisa tersebut hanya melihat pada keseluruhan percakapan di internet atau platform media sosial. Menurut Benny, percakapan di internet ataupun platform media sosial yang terjadi mungkin saja dilakukan oleh akun-akun anonim alias buzzer.

"Orang yang bicara negatif bisa saja sepeti buzzer, seperti pengulangan-pengulangan. Jadi kayak harga mati ngomonginnya itu-itu saja, padahal dinamis, ada perubahan-perubahan," katanya.

Lebih lanjut, Benny membandingkan hasil prediksi big data dengan hasil survei yang menggunakan metode pertanyaan langsung kepada pemilih riil. Para responden akan langsung menjawab pilihannya apakah memilih pasangan 01 atau 02, atau abstain.

"Kalau ini hanya sekadar percakapan, tidak ada pertanyaan. Apakah si A, si B itu memilih 02, tidak pantas, tidak patut, tidak layak secara teknis diambil kesimpulan bahwa Prabowo sekian persen, Jokowi sekian persen. Itu enggak bisa diterima secara objektif, secara akademik. Ada unsur provokasi di sini," ujarnya.

Benny mengatakan, alasan ia sengaja datang karena ia menduga ada upaya penggiringan opini kepada publik bahwa Prabowo-Sandi pasti akan menang atas hasil analisa dari Menara Digital Network itu.

"Ya, ini penggiringan opini publik seperti yang saya bilang, seolah-olah sudah menang ini Prabowo," ungkapnya.[]