News

TK di Cipayung Kepergok Gelar Pembelajaran Tatap Muka saat PPKM, Anak-anak Bakal Ditest Covid-19?

Aksi nekat pihak sekolah yang bisa mengancam kesehatan peserta didik itu digelar pada 16 hingga 26 Juli 2021 lalu.


TK di Cipayung Kepergok Gelar Pembelajaran Tatap Muka saat PPKM, Anak-anak Bakal Ditest Covid-19?
Sejumlah murid mengikuti pembelajaran secara tatap muka di SDN Cikoneng, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (29/3/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Sebuah sekolah setingkat Taman Kanak-kanak di Cipayung, Jakarta Timur, kedapatan menggelar kegiatan belajar mengajar tatap muka di dalam kelas saat pemerintah sedang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk meredam lonjakan Covid-19.

Aksi nekat pihak sekolah yang bisa mengancam kesehatan peserta didik itu digelar pada 16 hingga 26 Juli 2021 lalu. Beruntung kegiatan itu diketahui warga setempat dan melaporkan kepada kelompok pemerhati pandemi corona, Lapor Covid-19. Pemprov DKI telah menindaklanjuti temuan itu, pihak sekolah juga telah mengakui perbuatannya.

Hanya saja, sekolah tersebut merupakan sekolah keagamaan sehingga terkait tindaklanjut temuan itu berada dibawah koordinasi Kementerian Agama.

Humas Disdik DKI Jakarta, Taga Radja Gah mengatakan, untuk memastikan kondisi kesehatan para peserta didik, pihak Kemenag bisa melakukan pelacakan corona, baik melalui metode swab tes atau antigen demi meminimalkan risiko penularan Covid-19 pasca kegiatan tersebut.

"Yang Al Firdaus itu kan di bawah koordinasi Kemenag, mungkin dari pihak Kemenag ada rencana itu (pelacakan Covid-19). Kita hanya dikasih tembusan aja sekolah tersebut sudah ditindak oleh pengawas," kata Taga saat dikonfirmasi, Kamis (5/8/2021).  

Taga mengatakan, ketika melakukan penelusuran laporan masyarakat terkait kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut, pengelolanya bilang kegiatan belajar tatap muka di dalam kelas itu dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Meski begitu, lanjut Taga, warga yang mengadukan hal ini tetap khawatir terhadap kondisi kesehatan anak-anak peserta didik. 

"Ya diterapkan prokes cuma mungkin yang ngadu itu khawatir kalau ada klaster baru. Saya pikir kalau masyarakat mengawasi, jadi kita apresiasi kalau ada masyarakat melaporkan bukan karena tidak suka tapi karena sayang ke anak-anak," tuturnya.

Taga melanjutkan, pihak sekolah berjanji tak akan mengulangi perbuatan yang mengancam kesehatan para peserta didik tersebut.Terkait sanksi, Taga bilang itu menjadi urusan Kemenag.

"Yang menindak pengawas RA. Jadi, bukan Disdik. Tapi kami dikasih tembusan, karena sampai ke Pak Wagub ya, Pak Wagub perintahkan kita untuk telusuri itu," tuturnya.

Taga mengaku, pihak sekolah berdalih menggelar pembelajaran tatap muka di tengah ledakan corona karena desakan dari orang tua wali murid. Namun baru setengah jalan, kegiatan itu justru diadukan warga ke pihak lapor Covid-19.

"Alasannya karena tekanan dari orang tua pingin anaknya belajar di sekolah, pihak sekolah bimbang sepertinya memutuskannya dan dia coba-coba gitu, tapi ternyata ada aja masyarakat mengadu," tandasnya.[]