Lifestyle

Tips Merintis Usaha Kuliner Daring, Undang Lebih Banyak Pembeli

Tidak seperti toko luring (offline) di mana penjual cenderung pasif menunggu pembeli, penjual daring dengan bantuan internet bisa aktif jemput bola. 


Tips Merintis Usaha Kuliner Daring, Undang Lebih Banyak Pembeli
Ilutrasi Memesan Makanan secara Daring (Dok Gofood)

AKURAT.CO Siapa dari kita yang belum pernah memesan makanan lewat aplikasi daring. Nampaknya bagi kita yang tinggal di kota-kota besar sudah tidak asing lagi dengan pesan makanan lewat daring.

Selain menghemat waktu, terkadang penyedia aplikasi juga menyediakan berbagai macam promo berupa diskon untuk menarik minat masyarakat.

Potensi yang ada pun tidak main-main, tercatat pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 Juta dan dari angka itu 170 juta merupakan pengguna media sosial dilansir dari We Are Social.

baca juga:

Dari angka yang fantastis tersebut pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi memandang generasi saat ini harus menjadi pelaku tidak hanya sebagai penonton.

Hal tersebut dikampanyekan dalam berbagai bentuk program guna meningkatkan literasi digital seperti yang diadakan untuk Masyarakat Bontang, Kalimantan Timur pada (30/6) lewat virtual.

Acara yang dipandu Ayu Amelia selaku moderator tersebut mengambil tema “Merintis Bisnis Kuliner Daring”. 

Narasumber dalam acara tersebut adalah Dosen Fikom Unisba dan Co-Founder Japelidi Rita Gani; Founder Duaide.com serta Digital Marketing, Strategy & Consultant Desti Dwiyanasari; dan Chandra Kirana selaku Kabid Penelitian dan Pengembangan SDM RTIK Babel dan Kaprodi Teknik Informatika ISB Atma Luhur.

Dalam webinar tersebut, Rita Gani mengatakan bahwa saat ini dunia belanja sudah banyak berpindah ke ranah daring atau online.

Tidak seperti toko luring (offline) di mana penjual cenderung pasif menunggu pembeli, penjual daring dengan bantuan internet bisa aktif jemput bola. 

Tak hanya itu, jika berjualan di lokapasar atau marketplace, penjual juga bisa memanfaatkan fitur chat untuk berkomunikasi dengan pembeli. 

“Dalam bisnis kuliner ini perlu, misalnya pembeli ingin menanyakan bahannya apa atau seberapa pedas.

Ini bisa dilakukan melalui kolom chat dan sebagai penjual harus menyediakan waktu karena respons yang baik dari penjual akan menambah nilai lebih produk,” tuturnya.

Dia menambahkan, beberapa lokapasar juga menyediakan fitur Hubungi Penjual jika pembeli masih memiliki pertanyaan setelah membeli atau menggunakan produk. 

Terkait bisnis kuliner daring, Desti Dwiyanasari mengatakan, pebisnis pemula bisa memanfaatkan sarana promosi yang gratis seperti media sosial atau blog. 

Selanjutnya manakala bisnis mulai berkembang bisa melebarkan sayap dengan bergabung dalam aplikasi daring atau menjadi anggota lokapasar. 

Selain itu, Desti juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam membuat konten untuk mempromosikan produk dalam negeri yang dijual di ranah daring. 

“Bahasa terbaik adalah bahasa yang mudah dipahami kedua belah pihak baik itu produsen maupun konsumen. Jangan sampai salah persepsi apalagi berselisih paham. Memberikan masukan dan tanggapan dengan bahasa yang baik juga bisa meningkatkan reputasi bisnis daring,” saran dia.  

Sementara itu, Chandra Kirana mengingatkan untuk mewaspadai berbagai penipuan saat berbelanja daring. Ragam kejahatan siber seperti scam, spam, phising dan hacking bisa merugikan konsumen sehingga harus diwaspadai.

Seringkali, kata dia, orang awam berbelanja daring di situs internet atau aplikasi belanja tapi tidak mengetahui apakah situs tersebut asli atau palsu. 

Untuk itu, Chandra menegaskan pentingnya pengetahuan dasar tentang aplikasi atau situs resmi yang aman untuk bertransaksi. 

“Intinya teliti dulu sebelum membeli. Banyak orang yang beli barang tapi setelah datang barangnya salah atau tidak sesuai harapan. Ada juga yang sudah transfer uang tapi barangnya tak kunjung datang, dan setelah ditelusuri ternyata situsnya situs bodong. Jadi, sebelum transaksi cek dulu rekam jejak penjual dan jangan tergoda dengan barang murah di internet serta manfaatkan rekening bersama di lokapasar,” bebernya.  

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.

Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.