Lifestyle

Tips Memperbaiki Perilaku Buruk Anak Sebelum Terlambat

Perilaku buruk seorang anak sering kali merupakan akibat dari tidak didengarkan atau dimanjakan


Tips Memperbaiki Perilaku Buruk Anak Sebelum Terlambat
Ilustrasi - Tips mengatasi kelakuan buruk anak sebelum terlambat (iStockphoto)

AKURAT.CO Ada banyak lapisan dalam kepribadian anak. Meskipun memiliki sisi polos dan jujur, anak dapat mengembangkan sifat-sifat yang mungkin tidak menyenangkan bagi orang tua, dan orang lain secara umum. Faktanya, perilaku buruk seorang anak sering kali merupakan akibat dari tidak didengarkan atau dimanjakan secara berlebihan.

Sebagai orang tua, Bunda harus belajar untuk menemukan keseimbangan antara dua hal tersebut sehingga membuat anak sadar akan tindakannya dan membuatnya lebih bertanggung jawab. Jika Bunda merasa anak sudah mulai menunjukkan perilaku buruk, berikut AKURAT.CO uraikan beberapa cara untuk memperbaiki perilaku anak sebelum terlambat, dilansir dari Times of India, Jumat (26/11/2021): 

Tetapkan aturan dasar sejak dini

Pada saat anak mulai mengembangkan keterampilan bahasa dan kognitif, mulailah menetapkan aturan dasar. Jangan menunggu tumbuh dewasa, sebaliknya perkenalkan anak pada nilai-nilai yang baik, rutinitas yang tepat, dan keyakinan positif sejak dini. Nilai dan kebiasaan baik itu akan tetap bersamanya hingga dia tumbuh dewasa. Dia akan tumbuh menjadi anak yang baik dan pengertian. 

Ajari perbedaan antara benar dan salah

Orang tua juga harus membantu anak untuk membedakan antara apa yang salah dan benar.  Itu akan membantu anak dalam menjalani hidupnya dengan lebih tahu. Selain itu, biarkan anak tahu ketika dia melakukan kesalahan dan hargai atas perbuatan baik yang dilakukannya. Bantu anak membuat pilihan yang tepat dalam hidup dan jangan memberikan kritik terlalu keras atas kesalahan yang diperbuatnya. 

Jadikan komunikasi sebagai proses dua arah

Jangan menjadi orang tua yang hanya tahu cara berceramah. Sebaliknya, buat diri Bunda mampu mendengarkan anak. Dalam hal mengasuh anak, komunikasi harus menjadi proses dua arah. Sama seperti mengharapkan anak untuk mendengarkan, Bunda juga harus belajar untuk "memberikan telinga" kepada anak.

Bantu anak menemukan solusi untuk masalahnya. Dengan cara ini, anak akan menaruh kepercayaan pada Bunda!