Lifestyle

Tips Agar Anak Lancar Bersosialisasi Usai 2 Tahun Hadapi Pandemi

Anak-anak membutuhkan pengalaman konkret untuk bisa mengembangkan keterampilan bersosialisasi.


Tips Agar Anak Lancar Bersosialisasi Usai 2 Tahun Hadapi Pandemi
llustrasi - Keterampilan bersosialisasi anak (Freepik)

AKURAT.CO, Interaksi sosial adalah bagian penting dari perkembangan sepanjang masa kanak-kanak sebab ini membentuk dasar untuk jenis pembelajaran lainnya. Kemampuan anak untuk bersosialisasi dimulai sejak dini.

Namun dua tahun tanpa interaksi sosial akibat pandemi Covid-19 memengaruhi kemampuan bersosialisasi anak, terutama di bawah usia tujuh tahun.

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariana, S.Psi., M.Si.,Psi., menjelaskan bahwa anak berusia di bawah tujuh tahun memiliki tingkat pemahaman yang masih sangat konkret. Artinya, anak-anak masih hanya bisa memahami sesuatu jika hal tersebut betul-betul dilihat, pegang, dan lainnya. 

baca juga:

"Selama pandemi anak-anak tidak mengalami interaksi langsung, inilah yang mempersulit kemampuan sosialisasi anak," kata Anna kepada AKURAT.CO dalam konferensi pers virtual, Selasa (28/6/2022). 

Saat tidak ada interaksi dan pengalaman, keterampilan bersosialisasi anak menjadi tidak berkembang. Alhasil, mereka akan kebingungan jika hendak berinteraksi secara langsung setelah masuk masa transisi.

Selain itu, meskipun pembelajaran tatap muka sudah diizinkan,  protokol kesehatan masih harus diterapkan secara ketat mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir. Sementara itu, permainan anak-anak membutuhkan banyak sentuhan.

Kombinasi dari kedua kondisi ini membuat anak menghabiskan waktu dengan gawai. Perlahan, anak menjadi terikat dengan gawainya, dan sulit untuk berinteraksi secara langsung. 

"Selama kondisi pandemi, belajar dari rumah sehingga anak tidak memiliki pengalaman berinteraksi langsung. Pada anak berusia di bawah tujuh tahun, ini pengaruhnya sangat besar," tegasnya. 

"Protokol kesehatan pun membuat permainan dengan sentuhan tidak disarankan. Salah satu protokol kesehatan yang sangat dianjurkan adalah tidak bersentuhan. Padahal permainan anak membutuhkan sentuhan. Inilah yang membuat mereka sulit bersosialisasi," ujar Anna.

Untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi anak, Bunda dan Ayah diharapkan aktif dan terlibat dalam aktivitas anak. 

Berikut beberapa cara sederhana untuk membantu mengembangkan keterampilan sosial anak

  • Menjadwalkan waktu berkegiatan bersama anak
  • Menunjukkan kerja sama baik, antara kedua orang tua. Jika orang tua terus bertengkar, itu tidak menunjukkan kerja sama yang baik. Anna menegaskan bahwa kerja sama Ayah dan Bunda adalah contoh bersosialisasi utama untuk anak.
  • Orang tua tetap menjaga pergaulan agar menjadi contoh untuk anak. Bunda juga bisa menceritakan kehidupan sosial kepada anak untuk menjadi contoh. Ini akan membuat anak memiliki ide-ide untuk berinteraksi dengan orang lain
  • Melakukan roleplay atau drama-drama sederhana dengan anak. Permainan sederhana ini pun dapat mengajarkan cara bersosialisasi.[]