Ekonomi

Tingkatkan Daya Saing, Petani Cabai di NTB Sepakat Bentuk Koperasi


Tingkatkan Daya Saing, Petani Cabai di NTB Sepakat Bentuk Koperasi
Ketua Asosiasi Cabai Indonesia (ACI) Abdul Hamid mengatakan terbentuknya kelembagaan koperasi bagi petani cabai sangat diperlukan. (DOK. KEMENKOP UKM)

AKURAT.CO Sejumlah petani cabai di Nusa Tenggara Barat (NTB) sepakat untuk membentuk koperasi. Para petani menganggap perlu wadah usaha bersama untuk mendukung peningkatan daya saing petani. 

Ketua Asosiasi Cabai Indonesia (ACI) Abdul Hamid mengatakan terbentuknya kelembagaan koperasi bagi petani cabai sangat diperlukan. 

"Pemerintah tidak mungkin menghadapi para petani ini satu-satu, melalui koperasi pemerintah dapat melakukan pembinaan dengan secara sistematis," ucap Hamid. 

Melalui kelembagaan koperasi, menurut Hamid, ada solusi bagi petani cabai terhadap kendala budidaya, pembiayaan, inovasi teknologi. Dalam wadah koperasi dapat dilakukan pelatihan dan pendampingan untuk peningkatan kualitas budidaya yang lebih terarah, akses pembiayaan lebih mudah, dan mencari peluang akses pemasaran.

Mengingat permasalahan yang kerap menghantui petani diantaranya serangan hama dan penyakit sulit diatasi karena petani tidak memiliki dana untuk membeli obat-obatan tanaman. Selain itu, harga cabai yang sangat fluktuatif,  terutama dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Pada musim hujan dan panas, sangat sering tanaman cabai diserang hama dan penyakit yang menyebabkan produksi anjlok dan  dampaknya harga melonjak. Tetapi saat produksi melimpah, harga cabai anjlok hingga petani merugi. 

"Masalah harga juga persoalan pelik. Petani masih menjual hasil panen ke tengkulak dan pengepul yang menentukan harga secara sepihak sedangkan petani tidak punya posisi tawar," ujar Ketua Gapura, Subhan. 

Belum lagi faktor kesulitan modal kerja untuk mulai bertanam. Pasalnya, petani harus membutuhkan modal awal Rp 3,5 juta-4 juta untuk tanaman cabai seluas 10 ha. Saat ini, modal itu harus disediakan sendiri oleh petani lantaran belum ada akses pembiayaan murah. 

Subhan mengakui petani sangat berharap mendapat fasilitasi kemitraan melalui dukungan pemerintah (Kementerian Koperasi dan UKM) dengan perusahaan swasta untuk membantu memecahkan persoalan yang dihadapi petani. Dengan adanya koperasi, ia menilai akan lebih mudah menjalin kerjasama dengan swasta. 

Menurutnya para petani pernah mendapat tawaran kerja sama dari swasta, tapi tanpa adanya pendampingan. Swasta tersebut hanya ingin membeli hasil panen dengan kualitas yang mereka tentukan.

"Selama ini kami petani cabai belum pernah merasakan kemitraan yang bisa menjamin harga dan kualitas. Kami sangat berharap ada kemitraan yang akan menguntungkan kedua pihak yang memecahkan masalah yang dihadapi petani," imbuh Subhan. 

Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan fasilitasi dan dukungan kemitraan yang disertai pendampingan dari Kementerian Koperasi dan UKM untuk memperkuat daya saing petani. Petani membutuhkan pendampingan tentang peningkatan kualitas, teknologi dan manajemen.[]