Lifestyle

Timbang Kepala Kebo, Proses Pembayaran Nazar Orang Tua Sumatera Selatan

Timbang Kepala Kebo adalah tradisi turun temurun masyarakat Banyuasin, Sumatera Selatan.


Timbang Kepala Kebo, Proses Pembayaran Nazar Orang Tua Sumatera Selatan
Timbang Kepala Kebo asal Sumatera Selatan (budaya-indonesia.org)

AKURAT.CO Timbang Kepala Kebo adalah tradisi turun temurun masyarakat Banyuasin, Sumatera Selatan. Tradisi ini berkaitan erat dengan nazar yang dilakukan oleh orang tua. Jadi, siapa pun yang melakukan nazar harus menimbang kepala kerbau yang sudah disembelih alias Timbang Kepala Kebo jika keinginannya tercapai.

Tradisi ini terutama dikenal di Pangkalan Balai, ibu kota kabupaten Banyuasin dan sekitarnya. Adapun nazar dalam adat Pangkalan Balai lebih di kenal dengan istilah sangi. Masyarakat Banyuasin biasanya melakukan sangi saat kesulitan mendapatkan keturunan. Jika sudah mendapatkan anak, dia akan melakukanTimbang Kepala Kebo pada saat khitanan maupun syukuran. 

Timbang Kepala Kebo, Proses Pembayaran Nazar Orang Tua Sumatera Selatan - Foto 1
Timbang kepala Kebo budaya-indonesia.org

Selain konteks keturuanan, Timbang Kepala Kebo juga sering dilakukan pada saat pernikahan. Ya, orang tua biasanya melakukan sangi saat khawatir anaknya tidak mendapatkan jodoh atau keturuanan. Sangi ini terkadang diucapkan ketika anak perempuannya masih kecil.

Apabila sang anak akhirnya menikah, Timbang Kepala Kebo dilakukan bersamaan dengan acara perayaan pernikahan, lebih tepatnya setelah akad nikah. Kepala kerbau akan ditimbang bersamaan dengan anak yang akan menikah. Sementara daging kerbau yang disembelih dimasak dan disantap oleh para tamu undangan.

Berikut AKURAT.CO rangkum prosesi Timbang Kepala Kebo pada saat hari pernikahan, dilansir dari berbagai sumber, Selasa (16/11/2021): 

  1. Pemangku adat memimpin doa agar acara Timbang kepala Kebo berjalan lancar.
  2. Pengantin diarak kedua orangtua dan keluarga besar di atas kain panjangan sebanyak tujuh lembar menuju decing timbangan (ayunan timbang kepala kebo)
  3. Selama arak-arakan pengantin menuju ayunan, pemangku adat melantunkan syair Selendang Delima.
  4. Sekitar lima meter dari ayunan pengantin akan disambut pantun. Pemangku adat kemudian mengarahkan pengantin duduk di atas ayunan. Selama pengantin diayun oleh orang tuanya,  pemangku adat melantunkan beberapa syair serambe berisi nasihat dan suka cita.
  5. Selama syair serambe dilantunkan, pengantin ditaburi beras kunyit oleh kakak atau saudara kandung dari pihak keluarga perempuan maupun laki-laki.
  6. Pemangku adat membacakan doa selamat kepada pengantin. 
  7. Pengantin akan ditimbang dengan kepala kerbau.

Prosesi ini dilakukan secara bergantian oleh pengantin laki-laki dan perempuan.  Dengan berakhirnya doa yang dibawakan pemangku adat, maka selesailah rangkaian  adat Timbang Kepala Kebo sebagai tanda lunas atau selesainya sangi

Kedua pengantin kemudian melakukan sungkem kepada orang tua secara bergantian. Setelah itu, mereka dibawa ke pelaminan utama untuk melakukan acara resepsi perkawinan pada umumnya.

Selain berkaitan dengan nazar keturunan dan jodoh, sangi juga diucapkan oleh orang tua ketika sang anak mendapat penyakit yang sulit disembuhkan. Pada saat sang anak sembuh, orang tua akan membayar nazarnya dengan Timbang Kepala Kebo. Jadi, selain pembayaran nazar, Timbang Kepala Kebo sebenarnya adalah wujud rasa syukur orang tua kepada Allah, atas rezeki, kesehatan, dan jodoh yang telah diberikan pada anak mereka.

Meskipun namanya Timbang Kepala Kebo (kerbau), tradisi ini tidak terbatas pada kerbau saja. Ada juga masyarakat yang menggunakan sapi atau kambing. 

Tidak ada catatan pasti kapan dan siapa yang pertama kali melakukan Timbang Kepala Kerbau. Menurut lamn resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), tradisi ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu dalam masyarakat Banyuasin. Tradisi Timbang Kepala Kebo ini sendiri sudah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia pada 2018.