News

TikTok Digugat Atas Penyalahgunaan Data Pribadi Anak-anak

TikTok sedang menghadapi gugatan dari mantan komisioner anak untuk Inggris, Anne Longfield atas kasus penyalahgunaan data anak.


TikTok Digugat Atas Penyalahgunaan Data Pribadi Anak-anak
TikTok digugat atas dugaan penyalahgunaan data pribadi. (bbc.co.uk)

AKURAT.CO, TikTok sedang menghadapi gugatan dari mantan komisioner anak untuk Inggris, Anne Longfield atas kasus penyalahgunaan data anak. Gugatan tersebut dilakukan atas nama jutaan anak di Inggris dan Uni Eropa yang telah menggunakan aplikasi media sosial tersebut. 

Jika berhasil, anak-anak yang terdampak akan mendapatkan ribuan poundsterling atau sekitar puluhan juta rupiah. Sedangkan pihak TikTok mengklaim bahwa gugatan tersebut tak berdasar dan akan melawannya. 

Pengacara melayangkan tuduhan bahwa TikTok mengambil informasi pribadi anak, termasuk nomor telepon, video, lokasi, hingga data biometrik tanpa pemberitahuan yang mencukupi, transparan atau izin yang dibutuhkan oleh hukum dan tanpa izin dari anak yang bersangkutan atau orang tua dengan tanpa mengetahui apa yang telah dilakukan TikTok atas informasi tersebut. 

“Privasi dan keamanan adalah prioritas utama bagi TikTok dan kami memiliki peraturan, proses, dan teknologi yang sangat kuat untuk membantu melindungi semua pengguna, dan khususnya bagi pengguna anak-anak dan remaja kami. Kami yakin bahwa klaim tersebut kurang pantas,” jelas perwakilan dari TikTok. 

Gugatan tersebut dilayangkan atas nama semua anak yang telah menggunakan TikTok sejak 25 Mei 2018. Anak-anak yang tidak ingin diwakili dapat memilih untuk tidak ikut. Longfield mengatakan kepada BBC bahwa dia fokus pada TikTok karena, ketika semua platform media sosial mengumpulkan informasi, TikTok memiliki kebijakan pengumpulan data yang "berlebihan". 

“TikTok adalah platform media sosial yang begitu populer yang telah membantu anak-anak tetap terhubung dengan teman-temannya selama masa-masa krisis saat ini. Meski begitu, di balik berbagai lagu, tantangan menari, hingga tren lip-sync terdapat sesuatu yang jauh lebih kejam,” ungkap Longfield. 

Longfield menyatakan bahwa TikTok adalah "layanan pengumpulan data yang terselubung sebagai jaringan sosial" yang "sengaja dan berhasil menipu orang tua". Dirinya juga menambahkan bahwa orang tua tersebut memiliki "hak untuk mengetahui" informasi pribadi apa yang dikumpulkan melalui "praktik pengumpulan data bayangan" TikTok.

Kasus ini diwakili oleh firma hukum Scott and Scott. Tom Southwell dari firma tersebut mengatakan dia yakin bahwa informasi yang dikumpulkan oleh TikTok merupakan "pelanggaran berat hukum dari perlindungan data Inggris dan Uni Eropa".

"Pendapatan iklan TikTok dan ByteDance dibangun berdasarkan informasi pribadi penggunanya, termasuk anak-anak. Mengambil keuntungan dari informasi ini tanpa memenuhi kewajiban hukumnya, dan kewajiban moralnya untuk melindungi anak-anak secara online, tidak dapat diterima,” jelas Tom Southwell. 

Kasus ini bukanlah tanpa dasar. Sebelumnya, pada tahun 2019 lalu, perusahaan asal China ini mendapatkan denda mencapai USD 5,7 juta (Rp82 miliar) oleh Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat karena ketidakmampuannya dalam mengelola data anak-anak. 

Selain TikTok, aplikasi media sosial lain di bawah perusahaan yang sama, Musical-ly juga ikut terseret. Pasalnya, aplikasi media sosial ini diketahui memfasilitasi konten yang dibuat oleh anak di bawah 13 tahun. 

TikTok diperintahkan untuk menghapus data dan mengatur sistem verifikasi usia. Menurut Ofcom, 44 persen dari anak berusia 8 hingga 12 tahun di Inggris menggunakan TikTok, meskipun kebijakannya melarang anak di bawah 13 tahun di platform tersebut.

Gugatan resmi kepada TikTok awalnya pertama kali dilakukan oleh seorang anak berusia 12 tahun pada tahun lalu yang didukung oleh Longfield. Ketika itu, Longfield tidak langsung mengajukan gugatan tetapi menunggu hasil kasus lainnya.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu