News

Tiga Saksi Kasus Haris Azhar dan Fatia Bongkar Rekam Jejak Bisnis Tambang Luhut di Papua

Para periset diperiksa sebagai saksi yang meringankan tersangka Haris Azhar dan Fatia Mauliadianty yang memproduksi konten YouTube tersebut.

Tiga Saksi Kasus Haris Azhar dan Fatia Bongkar Rekam Jejak Bisnis Tambang Luhut di Papua
tiga periset dari KontraS, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Trend Asia dalam kasus YouTube Haris Azhar datangi Polda Metro Jaya, Senin (4/4/2022) (AKURAT.CO/Anisha Aprilia)

AKURAT.CO, Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya telah memeriksa tiga periset dari KontraS, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Trend Asia dalam kasus YouTube Haris Azhar pada Senin (4/4/2022).

Para periset itu diperiksa sebagai saksi yang meringankan tersangka Haris Azhar dan Fatia Mauliadianty yang memproduksi konten YouTube tersebut.

"Kedatangan kita kali untuk didengar keterangannya sebagai saksi meringankan Fatia dan Haris, intinya para saksi ini menjelaskan beberapa di antaranya berkaitan dengan apa yang disampaikan Fatia dan Haris," kata Divisi Hukum Kontras Andi Muhammad Rezaldy di Polda Metro Jaya, Senin (14/4/2022) malam.

baca juga:

Lebih lanjut, Andi mengatakan konten tersebut dibuat berdasarkan pernyataan data yang disampaikan oleh koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari sembilan organisasi non pemerintah (NGO).

Dari sembilan organisasi, tiga orang dari tiga organisasi masing-masing itu kemudian diperiksa oleh kepolisian atas riset yang menjadi dasar video.

Ketiga saksi tersebut diperiksa kurang lebih empat jam.

Untuk diketahui, organisasi ini adalah bagian dari sembilan organisasi yang meriset soal dugaan keterlibatan Luhut dalam bisnis tambang Papua.

Menurut Kepala Divisi Hukum Kontras, Andi Muhammad Rezaldy, dalam pemeriksaan total ada 27 pertanyaan yang diberikan penyidik.

"Pertanyaan seputar konten video yang dibuat oleh Haris Azhar dan pernyataan Fatia Mauliadianty terkait kepentingan bisnis yang dilakukan LBP dan temuan-temuan riset yang ditemukan sejumlah peneliti atas laporan yang telah dibuat," tambahnya.

Selain itu, ketiga saksi itu juga memberikan dokumen yang berisi rekam jejak bisnis atau dugaan konflik kepentingan yang dilakukan Luhut kepada penyidik.

Ahmad Ashov Birry dari Trend Asia menambahkan bahwa hasil riset tersebut telah dilakukan selama 5 sampai 6 bulan sebelum diterbitkan pada Agustus 2021.

"Jadi sudah lama riset kami luncurkan dan kami masih tunggu langkah-langkah pemerintah agar segera hentikan konflik kekerasan di Papua dan juga memikirkan pertambangan yang tidak diizinkan rakyat," kata Ashov.

Menurut Ashrov, hasil riset telah disebarluaskan ke ranah publik sebelum dibahas dalam akun Youtube milik Haris Azhar.

"Saya yakin sudah sampai ke mana-mana lewat jalur publik dan kami akan terus sebarluaskan," tandas dia.

Seperti yang diketahui, polisi telah menetapkan Direktur Lokataru Haris Azhar dan Koordinator KontraS Fatia Maulidiyanti sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik sebagaimana dilaporkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Kasus ini berawal saat Luhut Binsar Pandjaitan melaporkan Direktur Lokataru Haris Azhar dan Koordinator KontraS Fatia Maulidiyanti ke Polda Metro Jaya atas tuduhan pencemaran nama baik.

Tuduhan tersebut didasari konten YouTube wawancara antara Fatia Maulida dengan Direktur Lokataru Haris Azhar dengan judul 'Ada Lord Luhut di Balik Relasi Ekonomi-Ops Militer Intan Jaya!! Jenderal BIN Juga Ada!!' Video itu diunggah di akun Youtube Haris pada 20 Agustus 2021.

Laporan terdaftar di Polda Metro Jaya dengan nomor STTLP/B/4702/IX/2021/SPKT/POLDA METRO JAYA, 22 September 2021.

Menanggapi video tersebut, Luhut kemudian membantah dengan tegas apa yang disampaikan Haris dan Fatia dalam konten wawancara tersebut. Termasuk dengan tuduhan memiliki bisnis tambang di Papua.

"Saya tidak sama sekali ada bisnis di Papua, sama sekali tidak ada. Apalagi dibilang untuk pertambangan-pertambangan itu kan berarti jamak. Itu saya enggak ada," kata Luhut di Gedung Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Senin (27/9/2021).[]