News

Tiga Menteri Terjerat Korupsi, Presiden Malawi Langsung Pecat Seluruh Kabinet

Tiga Menteri Terjerat Korupsi, Presiden Malawi Langsung Pecat Seluruh Kabinet


Tiga Menteri Terjerat Korupsi, Presiden Malawi Langsung Pecat Seluruh Kabinet
Chakwera terpilih pada tahun 2020 dengan janji untuk memerangi korupsi tetapi baru-baru ini mendapat kecaman karena kelambanannya. (Amos Gumulira/AFP )

AKURAT.CO, Presiden Malawi Lazarus Chakwera memutuskan untuk membubarkan seluruh kabinetnya. 

Langkah itu disampaikan Chakwera pada Senin (24/1), usai dugaan korupsi menjerat tiga menteri di kabinetnya. Dalam pidato kenegaraannya, Chakwera pun bersumpah akan 'melawan semua bentuk pelanggaran hukum oleh pejabat publik'.

"Saya dengan segera membubarkan seluruh kabinet saya. Semua fungsi kabinet akan kembali ke kantor saya sampai saya mengumumkan kabinet yang dikonfigurasi ulang dalam dua hari," kata Chakwera.

baca juga:

Seperti diwartakan DW hingga Al Jazeera, tiga menteri Malawi yang terlibat korupsi adalah Menteri Pertanahan Kezzie Msukwa, yang dituduh mengambil untung dari kesepakatan tanah yang melibatkan pengusaha Malawi yang berbasis di Inggris; Menteri Tenaga Kerja Ken Kandodo, yang dituduh menyelewengkan dana Covid-19; dan Menteri Energi Newton Kambala, yang dituduh memanipulasi kesepakatan impor bahan bakar secara ilegal.

Chakwera mengatakan bahwa dia telah meminta tiga menteri tersebut dan pejabat publik lainnya untuk mempertanggungjawabkan tuduhan yang dikenakan. 

Chakwera terpilih menjadi presiden setelah menang pemilihan 2020 dengan janji memerangi korupsi. Ia juga menjabat sebagai ketua Partai Kongres Malawi (MCP). Ini adalah partai politik tertua di Malawi sekaligus yang terbesar di aliansi pemerintahan yang berkuasa saat ini, Aliansi Tonse.

Namun, di tengah posisi kuatnya itu, Chakwera justru tengah menghadapi serangkaian masalah yang menargetkan pemerintahannya. Baru-baru ini saja, Presiden Malawi itu menuai kecaman karena dinilai 'lamban' menangani negara. Kritikan keras itu bahkan datang langsung dari Konferensi Waligereja Malawi (ECM) dan Komite Urusan Publik (PAC) — yang terdiri dari kelompok-kelompok gereja yang bertindak sebagai pengawas pemerintah.

Menanggapi kasus terbaru ini, ECM pun meminta agar keadilan ditegakkan. Mereka juga menuntut komitmen pihak berwenang untuk memastikan tidak ada pihak yang akan 'ditekan, diintimidasi, atau dipengaruhi' dalam mengusut kasus korupsi ini. 

"Betapun kuat, kaya, dan banyaknya  koneksi dari tersangka, jangan ada upaya perlindungan untuknya," bunyi pernyataan yang baru-baru ini dirilis oleh para uskup Katolik dari ECM.

Kini, Chakwera ikut dihadapkan pada gelombang pemberontakan yang berkembang dari dalam aliansinya, dengan banyak anggota menuduh MCP melakukan korupsi hingga nepotisme. Pada saat yang bersamaan, Chakwera masih harus berjuang mengejar kebijakan untuk menyelamatkan negara dari krisis keterpurukan ekonomi.

Keputusan Chakwera pada Senin datang tak lama setelah penangkapan tiga mantan pejabat Partai Progresif Demokratik (DPP), yang sebelumnya memerintah Malawi. Para pejabat yang ditangkap itu termasuk mantan menteri keuangan dan gubernur bank sentral. Mereka dibekuk dengan tuduhan telah memanipulasi rekening untuk mendapatkan pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Kedua pejabat itu sebelumnya dianggap sebagai calon favorit untuk menantang Chakwera dalam pemilihan presiden Malawi 2025.

Malawi adalah salah satu negara terkecil di benua Afrika serta salah satu yang paling padat penduduknya. 

Malawi juga menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dengan hampir tiga perempat penduduknya hidup dengan pendapatan kurang dari USD2 (Rp28 ribu) sehari. Di tengah situasi itu, negara ini masih harus menyaksikan banyak bencana, seperti banjir besar, kekeringan berkepanjangan, hama perusak tanaman, hingga pandemi virus corona. Segala faktor ini pada akhirnya makin menyebabkan Malawi terpuruk, hingga 15 persen penduduknya tercatat sangat membutuhkan bantuan pangan. []