News

Tiga Kabupaten di NTT Terdampak Bencana Alam Terbesar

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi menyebutkan dampak bencana alam terbesar di provinsi berbasis kepulauan itu terjadi di tiga kabupaten


Tiga Kabupaten di NTT Terdampak Bencana Alam Terbesar
Presiden Joko Widodo saat meninjau langsung salah satu lokasi terdampak bencana yang disebabkan oleh siklon tropis Seroja di Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (9/4/2021). (AKURAT.CO/BPMI-Setpres/Laily Rachev)

AKURAT.CO, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi menyebutkan dampak bencana alam terbesar di provinsi berbasis kepulauan itu terjadi di tiga kabupaten.

"Ada tiga kabupaten yang terdampak bencana terbesar di NTT, dan saat ini sedang dalam penanganan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat," katanya kepada wartawan di Kupang, Sabtu, (10/4/2021).

Tiga kabupaten itu, ujar dia, tersebar di Kabupaten Alor, Kabupaten Flores Timur yakni di desa Nelelamadike dan Waiburak dan Kabupaten Lembata tepatnya di desa Amakaka yang dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (9/4).

Wakil Gubernur NTT menjelaskan bahwa sesuai data yang ada di Posko Komando tanggap darurat bencana di Kupang, untuk di kabupaten Alor jumlah korban yang meninggal akibat banjir bandang di daerah itu mencapai 28 orang, hilang 13 orang, luka-luka 29 orang, yang mengungsi 299 jiwa dan rumah yang rusak 720 unit.

Sementara untuk kabupaten Lembata, jumlah yang meninggal mencapai 46 orang, hilang 22 orang, luka-luka 86 orang. Pengungsi mencapai 2.345 orang dan rumah rusak mencapai 689 unit.

"Untuk Alor masih ada 14 orang yang belum ditemukan, dan untuk Lembata ada sekitar 32 orang yang dilaporkan belum ditemukan," tambah dia.

Sementara untuk kabupaten Flores Timur yang meninggal dunia mencapai 71 orang, dan hilang mencapai lima orang . Saat ini jumlah pengungsi di daerah itu mencapai 1.389 orang .

Wagub mengatakan bahwa pihaknya berusaha agar para pengungsi yang saat ini di lokasi pengungsian tidak dalam jumlah banyak karena saat ini sedang dalam pandemi COVID-19.

"Kita khawatir nanti akan muncul klaster baru karena banyaknya warga yang berkumpul di lokasi pengungsian," tambah dia. []

Sumber: Antara

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu