Lifestyle

3 Efek Tak Biasa dari Vaksin Covid-19

Sejumlah vaksin Covid-19 sempat mendapat perhatian karena efek samping yang tidak biasa, bahkan dianggap mengkhawatirkan


3 Efek Tak Biasa dari Vaksin Covid-19
Sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) menjalani vaksinasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Jakarta, Rabu (20/1/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Pemerintah terus menggencarkan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat. Untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan telah menetapkan tujuh jenis vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia.

Ketetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/12758/2020. Beberapa vaksin yang akan digunakan diantaranya vakin Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer-BioNTech, Novavax, dan vaksin Merah Putih – BioFarma. 

Setiap jenis vaksin Covid-19 memiliki platform yang berbeda-beda. Ada yang dikembangkan dari inactivated virus, berbasis RNA, viral-vector, dan sub-unit protein. Namun, semuanya sudah dipastikan aman dan cukup efektif dalam mengatasi virus corona.

Ketujuh vaksin ini juga memiliki efek samping yang tidak jauh berbeda. Berikut efek samping vaksin Covid-19 atau KIPI yang biasa terjadi menurut situs Kipi.covid19.go.id:

  • Nyeri dan bengkak pada lengan, di tempat suntikan
  • Nyeri sendi
  • Menggigil
  • Mual atau muntah
  • Rasa lelah
  • Demam (ditandai dengan suhu di atas 37,8 derajat Celcius)
  • Mengalami gejala mirip flu, menggigil selama 1-2 hari.

Akan tetapi, sejumlah vaksin sempat mendapat perhatian karena efek samping yang tidak biasa, bahkan dianggap mengkhawatirkan. Berikut AKURAT.CO rangkum beberapa kasus efek samping vaksin Covid-19.

Vaksin AstraZeneca 

Vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca sempat dihubungkan dengan masalah pembekuan darah. Pembekuan darah ini disebut Vaccine-Induced Thrombotic Thrombocytopenia (VITT) atau trombosis dengan sindrom trombositopenia, disebut juga (TTS). Setelah vaksin AstraZeneca masuk ke tubuh, trombosit akan aktif dan melepaskan protein yang disebut platelet faktor 4 (PF4). Peningkatan PF4 ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh untuk mengaktifkan trombosit sehingga membuat sel-sel tersebut saling menempel. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya pembekuan darah (trombosis) dan jumlah trombosit yang rendah (trombositopenia).

Terkait hal ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Eropa menilai bahwa vaksin AstraZeneca dapat menyebabkan reaksi pembekuan darah, namun manfaatnya masih lebih besar daripada risikonya. 

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Zullies Ikawati pun mengemukakan ada hubungan kuat antara kejadian pembekuan darah dengan penggunaan vaksin AstraZeneca, tetapi kejadiannya sangat jarang.