News

Tidak Hanya Novel, Akun WA dan Telegram Pegiat Antikorupsi Juga Diretas

Peretasan akun Whatsapp dan Telegram pegiat antikorupsi kembali terjadi setelah sebelumnya dialami aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW). 


Tidak Hanya Novel, Akun WA dan Telegram Pegiat Antikorupsi Juga Diretas
Eks Jubir KPK, Febri Diansyah saat memberikan keterangan kepada awak media, Kamis (12/12/2019) (AKURAT.CO/Aricho Hutagalung)

AKURAT.CO, Peretasan akun Whatsapp dan Telegram pegiat antikorupsi kembali terjadi setelah sebelumnya dialami aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW). 

Kali ini menimpa mantan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah, penyidik Novel Baswedan dan pegawai KPK lainnya Sujanarko.

Kabar penyadapan terjadi pada Kamis (20/5/2021) malam kemarin. Mereka mengumumkan adanya peretasan di akun Whatsapp dan Telegram miliknya melalui akun Twitter pribadinya.

Akun WA saya barusan tidak bisa diakses. Jika ada pesan yg saya kirimkan saat ini, itu bukan dari saya. Sebelumnya ada incomplete login di akun Telegram Saya..,” tulis Febri di akun Twitter @febridiansyah pada Kamis malam kemarin, pukul 23.20 WIB.

Lalu pada Jumat (21/5/2021) pagi ini, Febri mengabarkan Whatsapp miliknya sudah bisa diakses. Namun peretasan akun Whatsapp tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga para advokat antikorupsi yang lain.

Pagi ini saya sudah bs hubungi sejumlah teman di kontak WA. Alhamdulillah.. Saya dengar, WA/Tele sjumlah tmn yg advokasi antikorupsi jg mengalami hal yg sama. Smg ada keseriusan pihak yg berwenang utk memastikan perlindungan hak komunikasi dan data pribadi warga,” tulisnya pada pada Jumat pukul 08.52 WIB pagi ini.

Novel Baswedan juga mengumumkan peretasan terhadap akun Telegram miliknya. Tepatnya pada pukul 20.22 WIB. Dia menyebut Telegramnya sudah tidak bisa lagi diakses.

Pengumuman. Akun Telegram saya dibajak sejak pukul 20.22 WIB hari ini shg tdk lg dibawah kendali saya. Akun Telegram Pak Sujanarko sejak pukul 20.31 WIB juga dibajak shg tdk dlm kendali ybs. Bila ada yg dihubungi gunakan akun tsb, itu bukan kami,” tulis Novel di akun Twitter pribadinya @nazaqistsha, Kamis pukul 22.54 WIB.

Buntut peretasan media sosial para pegiat antikorupsi terjadi pasca perlawanan dilakukan 75 pegawai KPK yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan dalam seleksi pegawai KPK. Mereka melaporkan pimpinan KPK ke Dewas dan Ombudsman. Penonaktifan pegawai dinilai terjadi maladministrasi. []