Lifestyle

Tetap Waspada, WHO Pantau 2 Varian Omicron BA.4 dan BA.5

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini tengah memantau dua varian Omicron baru, yaitu BA.4 dan BA.5


Tetap Waspada, WHO Pantau 2 Varian Omicron BA.4 dan BA.5
Ilustrasi - WHO tengah memantau dua varian Omicron baru, yaitu BA.4 dan BA.5 (Freepik/kjpargeter)

AKURAT.CO Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini tengah memantau dua varian Omicron baru, yaitu BA.4 dan BA.5. Sebelumnya, WHO telah melacak anggota keluarga Omicron lainnya, termasuk BA.1 dan BA.2 — sub-varian yang sekarang dominan secara global, serta BA.1.1 dan BA.3.

Virus bermutasi sepanjang waktu tetapi hanya beberapa mutasi yang memengaruhi kemampuannya untuk menyebar atau menghindari kekebalan sebelumnya dari vaksinasi atau infeksi, atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.

Misalnya, BA.2 sekarang mendominasi hampir 94 persen dari semua kasus dan lebih menular dari saudara kandungnya, BA.1 dan BA.1.1. Selain itu BA.2 juga disebut "varian siluman" karena sedikit lebih sulit untuk dilacak. Namun bukti sejauh ini menunjukkan bahwa itu tidak lebih mungkin menyebabkan penyakit parah.

baca juga:

Oleh sebab itu, WHO perlu melacak seluruh kedua varian tersebut untuk melihat tingkat penularannya dan bahayanya. 

"Kami mulai melacakBA.4 dan BA.5 karena mutasi tambahan yang perlu dipelajari lebih lanjut untuk memahami dampaknya pada potensi pelarian kekebalan," kata WHO yang dikutip dari Global News, Selasa (12/4/2022).

Selain itu, WHO juga menyebutkan ada sekitar dua belas kasus BA.4 dan BA.5 yang sudah dilaporkan ke database GISAD global.

Sementara Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA)  mengatakan pekan lalu BA.4 telah ditemukan di Afrika Selatan, Denmark, Botswana, Skotlandia, dan Inggris dari 10 Januari hingga 30 Maret.

Semua kasus BA.5 berada di Afrika Selatan pada minggu lalu. Namu  Namun, , Kementerian Kesehatan Botswana melaporkan telah mengidentifikasi empat kasus BA.4 dan BA.5. pada Senin (11/4/2022). Semuanya terjadi antara orang berusia 30 hingga 50 tahun yang divaksinasi penuh dan mengalami infeksi ringan.

Adapun WHO masih terus memantau penyebaran COvid-19 di China. Hal tersebut diduga akibat dari merebaknya sub varian BA.2 atau Son of Omicron. China  melaporkan 1.184 kasus bergejala dan 26.411 tanpa gejala pada hari Minggu (10/4). Hal ini tidak bisa diabaikan karena  merupakan salah satu rekor kasus tertinggi yang dialami China.