Ekonomi

Tes PCR Masih Mahal Terus Karena Belum Ada Transparansi Biaya

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyampaikan bahwasanya dalam melakukan perbandingan perlu adanya apple to apple. 


Tes PCR Masih Mahal Terus Karena Belum Ada Transparansi Biaya
Warga menjalani swab test atau tes usap PCR di GSI Lab, Jakarta, Senin (16/8/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO  Masih tingginya harga tes PCR di Indonesia dibanding dengan India menjadi sorotan di tengah masyarakat, dimana harga satu test PCR di Indonesia bisa menyentuh hingga Rp. 500 ribu lebih. Padahal, Presiden Jokowi memerintahkan agar harga test PCR dapat diturunkan menjadi Rp. 450 - Rp. 550 ribu. 

Melihat hal tersebut Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyampaikan bahwasanya dalam melakukan perbandingan perlu adanya perbandingan yang apple to apple. 

"Mengapa harus apple to apple ? Sebab kondisi setiap negara itu berbeda-beda, bisa jadi harga tes PCR India lebih murah karena mereka menjadi produsen dan bisa membuat sendiri PCR nya, sedangkan di Indonesia masih Impor. Nah karena Indonesia ini masih impor maka harganya tergantung kepada dimana (alat tes) diambilnya," ucapnya pada saat bincang santai 'Pandemi, PCR dan Konsumen' melalui live Instagram Akurat di Jakarta, Selasa (31/8/2021). 

Meskipun begitu, lanjutnya, yang ingin ia tekankan adalah agar pemerintah lebih transparan lagi soal penetapan biaya pokok tes PCR, termasuk keuntungannya.

"Jadi semuanya harus transparan berapa sebenarnya biaya pokok tes PCR, lalu berapa keuntungan yang wajar, termasuk untuk biaya tenaga medis dan sebagainya," ujarnya. 

Oleh karna itu, tambahnya, Tulus meminta agar pemerintah melakukan audit keandalan serta kualitas PCR juga diperlukan. Dengan begitu, harga PCR dapat tecermin dari kualitas yang ada. "Perlu audit terhadap kualitas PCR, sehingga tetap harus mencerminkan kualitas," kata dia.

Sehingga, lanjutnya, tidak ada lagi permainan bisnis terhadap test PCR tersebut. 

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menanggapi adanya perbedaan PCR di Indonesia dan India. Kemenkes menegaskan penetapan harga tertinggi PCR di RI telah dikonsultasikan dengan berbagai pihak.

"Pada waktu penetapan SE PCR tentunya sudah dilakukan konsultasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk auditor. Jadi Kemkes tidak melakukan penetapan sendiri, sama seperti penetapan HET (harga eceran tertinggi) obat," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi. 

Dia pun menegaskan pihaknya terbuka untuk menerima kritik dan saran. Tak tertutup kemungkinan, Kemenkes juga mengevaluasi harga PCR jika diperlukan. []