Ekonomi

Terungkap! Ini Alasan Kemenko Marves Mau Terapkan Kebijakan Work From Bali

Kemenko Marves mengungkapkan alasan pihaknya mengadakan program Work From Bali.


Terungkap! Ini Alasan Kemenko Marves Mau Terapkan Kebijakan Work From Bali
Dua pengendara melintas di jalan Ngurah Rai saat hari pertama penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di kawasan taman Titi Banda, Denpasar, Bali, Jumat (15/5/2020). Kota Denpasar menerapkan PKM selama satu bulan dengan mendirikan 10 pos pantau terutama di perbatasan kota untuk mengawasi aktivitas warga tanpa tujuan jelas dan melanggar protokol kesehatan termasuk melanggar larangan mudik dalam upaya menghentikan penyebaran wabah COVID-19. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

AKURAT.CO Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mengungkapkan alasan pihaknya mengadakan program Work From Bali (WFB).

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves Odo RM Manuhutu, kinerja perekonomian Bali mengalami kontraksi yang cukup dalam yaitu minus 9,36 persen yoy pada kuartal I-2021, yang dampaknya bisa dilihat bila mengunjungi Bali.

"Banyak hotel (di Bali) yang beroperasi dengan minimum capacity yaitu sekitar 10 persen," katanya seperti dilansir dari Antara, Jakata, Sabtu (22/5/2021).

Ia menambahkan, untuk membayar gaji saja kurang memadai dan sebuah hotel untuk bisa membayar perawatan paling tidak occupancy rate atau tingkat keterisiannya harus sekitar 30-40 persen.

Mengenai kebijakan Work From Bali, masih menurut dia, hal itu tercetus karena melihat pelaksanaan Bali Investment Forum beberapa waktu lalu ternyata bisa meningkatkan tingkat keterisian dari sebelumnya 8-10 persen, maka selama penyelenggaraan ajang tersebut bisa naik sampai sekitar 50 persen.

Dengan demikian, program tersebut bila dijalankan maka diharapkan akan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan juga menggairahkan kembali aktivitas perekonomian di Pulau Dewata yang sedang terpuruk.

Senada, Kepala BI Perwakilan Bali Trisno Nugroho mengingatkan, struktur perekonomian Bali itu sekitar 52-56 persen sangat bergantung kepada sektor pariwisata.

"Seperti halnya kereta api, lokomotif ekonomi Bali itu sejak lama adalah pariwisata," kata Trisno

Ia menambahkan, karena pariwisata adalah sektor terparah dampaknya akibat pandemi, maka Bali pasti juga sangat terkena dampaknya.

Trisno memprediksi, sampai akhir 2021 ada kemungkinan pertumbuhan Bali berpotensi untuk kontraksi atau mengalami penurunan, yang merupakan hal kontras dengan kondisi di tempat atau pulau lain yang sudah ada mengalami pertumbuhan yang positif.

Ia juga menyebutkan bahwa kebijakan Work From Bali selaras dengan program di negara lain yang fokus wisatanya kepada pasar domestik.

Bali, masih menurut dia, harus dijaga sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia karena bila tidak akan tertinggal dari kompetitor regionalnya seperti Bangkok, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa mengemukakan, dalam kondisi normal, Bali berkontribusi sangat besar kepada perekonomian nasional seperti dari devisa, di mana sekitar 40 persen kontribusi berasal dari kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata tersebut.

Putu Astawa juga mengingatkan, sektor pariwisata di Bali juga menampung jutaan tenaga kerja, tidak hanya asal Bali semata, tetapi juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi berbagai kalangan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Ia berpendapat bahwa kebijakan Work From Bali adalah hal yang sangat melegakan yang ke depannya diharapkan dapat bisa menumbuhkan semangat dan optimisme di dalam sektor pariwisata agar para pelaku usahanya juga tidak menjadi frustrasi. []

Sumber: Antara