News

Terseret Kasus Bank Bali hingga Jadi Buronan, 5 Fakta Penting Djoko Tjandra


Terseret Kasus Bank Bali hingga Jadi Buronan, 5 Fakta Penting Djoko Tjandra
Buronan kasus pengalihan (cessie) tagihan piutang Bank Bali, Djoko Tjandra (Istimewa)

AKURAT.CO, Belakangan ini, nama buronan kasus pengalihan (cessie) tagihan piutang Bank Bali, Djoko Sudiarto Tjandra atau Djoko Tjandra, kembali menjadi perbincangan publik. Ia diketahui telah mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, terkait kasus cessie Bank Bali yang menyeretnya, Senin (8/6). Padahal status Djoko Tjandra saat ini adalah seorang buronan polisi.

Dalam pengajuannya, Djoko Tjandra diketahui menggunakan KTP baru yang ia buat di Jakarta Selatan. Namun, saat sidang PK berlangsung, Senin (29/6), ia justru tak hadir dengan alasan sakit.

Lantas, siapa sosok Djoko Tjandra tersebut?

Dihimpun oleh AKURAT.CO dari berbagai sumber, berikut 5 fakta penting Djoko Tjandra.

1. Seorang pengusaha

Bernama asli Tjan Kok Hui, Djoko Tjandra lahir di Sanggau, Kalimantan Barat, 27 Agustus 1950. Ia dikenal sebagai pebisnis yang sukses di bidang properti. Lebih lanjut, nama Djoko Tjandra semakin dikenal setelah bergabung dengan Grup Mulia. Di mana, grup tersebut diketahui menaungi sebanyak 41 anak perusahaan yang tersebar di Indonesia dan luar negeri.

2. Dirikan perusahaan bersama Setya Novanto

Seiring berjalannya waktu, bisnis yang dia jalani semakin mengalami kenaikan. Saat itu, ia berhasil membuat usahanya berkembang bersama ketiga saudaranya yakni Eka Tjandranegara, Tjandra Kusuma, dan Gunawan Tjandra. Lebih lanjut, Djoko Tjandra juga sempat mendirikan perusahaan bersama Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto bernama PT Era Giat Prima (EGP).

3. Terseret kasus Bank Bali

Pada tahun 1997, Bank Bali kesulitan untuk menagih piutang sebesar Rp3 triliun kepada tiga bank lain yakni Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN), dan Bank Tiara. Kemudian, Rudy Ramli selaku Direktur Utama Bank Bali memutuskan untuk bekerja sama dengan PT EGP. Dari sanalah kemudian Bank Bali dan PT EGP memperoleh dana Bank Indonesia dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebesar Rp905 miliar. Dengan rincian Bank Bali menerima sebanyak Rp359 miliar dan PT EGP Rp546 miliar. Selanjutnya, setelah dana tersebut dicairkan, Djoko Tjandra diseret ke pengadilan dengan tuduhan penyalahgunaan dana.

4. Divonis 2 tahun penjara

Atas kasus tersebut, Djoko Tjandra dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan harus membayar denda Rp15 juta oleh Mahkamah Agung pad Oktober 2008. Sebelumnya, Djoko Tjandra juga sempat divonis bebas tuntutan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, setelah dilakukan peninjauan, Mahkamah Agung memutuskan Djoko Tjandra bersalah dan dijatuhi hukuman penjara.

5. Jadi buronan

Belum sempat menjalani masa hukuman, Djoko Tjandra melarikan diri meninggalkan Indonesia ke luar negeri. Diketahui, saat itu ia menggunakan sebuah pesawat yang ia sewa dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Port Moresby, Papua Nugini. Lebih lanjut, ia juga turut pindah kewarganegaraan ke negara tersebut. Hingga saat ini, status Djoko Tjandra juga masih menjadi buron. Itulah sederet fakta mengenai Djoko Tjandra.[]