Lifestyle

Ternyata Merokok Bisa Sebabkan Anak Alami Stunting Loh !

Ibu yang terpapar atau mengkonsumsi rokok bisa mempengaruhi distribusi nutrisi dan oksigen pada bayi yang dikandung


Ternyata Merokok Bisa Sebabkan Anak Alami Stunting Loh !
Ilustrasi perokok yang bibirnya menghitam. (Unsplash/Dev Asangbam)

AKURAT.CO Stunting atau kekerdilan didefinisikan sebagai tinggi badan yang lebih dari dua standar deviasi di bawah Median Standar Pertumbuhan Anak, oleh Organisasi Kesehatan  Dunia (WHO). 

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi balita stunting di Indonesia turun dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018). Prevalensi Baduta (bayi di bawah dua tahun) stunting, juga mengalami penurunan dari 32,8% (2013) menjadi29,9% (2018)

Namun, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari batas toleransi WHO, yaitu 20% untuk stunting. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa rokok menjadi salah satu faktor risiko penting, yang menyebabkan Indonesia menduduki peringkat ke-108 negara dengan stunting tertinggi di dunia dan masih tingginya tingkat prevelenai stunting di Indonesia.

baca juga:

“Indonesia menempati peringkat ke-108 dari 132 negara yang diurutkan berdasarkan prevalensi kekerdilan balita terendah hingga tertinggi. Ini satu kondisi yang perlu mendapatkan perhatian dari kita semua,” ujar Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, Muhammad Rizal M. Damanik dalam webinar berjudul "Sosialisasi Pemahaman Hubungan Perilaku Merokok dan Stunting" secara daring, pada Kamis (20/01).

Menurut Damanik, tinggi badan ayah memang menjadi faktor genetik yang menentukan tinggi anak kelak. Namun, ibu yang terpapar atau mengkonsumsi rokok bisa mempengaruhi distribusi nutrisi dan oksigen pada bayi yang dikandung.

Akibat terpapar asap rokok selama masa kehamilan ini, ibu menjadi perokok pasif yang berpotensi melahirkan bayi dalam kondisi meninggal, prematur, keguguran, bahkan alami berat badan lahir rendah (BBLR) dan kematian.

“Rata-rata berat badan bayi akan 71,6 gram lebih rendah dan 16 persen lebih tinggi kemungkinan menjadi BBLR. Bahkan, memiliki peluang 51 persen lebih tinggi kemungkinan ukuran lahir yang lebih kecil daripada rata-rata,” jelas Damanik

Tak hanya Damanik, Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) menyebutkan, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2003-2018 sekitar 39,5 persen bayi yang lahir dalam keadaan kerdil berasal dari keluarga yang menjadi perokok aktif di Indonesia dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi miskin.

Bayi yang lahir tersebut, cenderung memiliki kondisi dengan berat 1,5 kilogram lebih kecil dan sekitar 0,34 senti meter tingginya lebih pendek dari bayi yang lahir dari keluarga yang bukan menjadi perokok aktif, bila melihat hasil penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) 2018.