Lifestyle

Kasihan, Anak Bisa Alami Tekanan karena Menjalankan Protokol Kesehatan!

Anak-anak bisa merasakan tekanan karena tidak bisa sekolah tatap muka dan beraktifitas bermain ramai-ramai bersama teman-temannya akibat protokol kesehatan.


Kasihan, Anak Bisa Alami Tekanan karena Menjalankan Protokol Kesehatan!
Anak-anak bisa merasakan tertekan apabila mereka selalu sekolah dari tanpa teman-temanny (AKURAT.CO)

AKURAT.CO, Kasus baru Covid-19 di Indonesia kembali naik menjadi 5.549 kasus per Selasa, (20/4). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga pukul 12:00 WIB,  total kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 1,614 juta orang.

Oleh karena itu, pemerintah masih memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro di beberapa daerah sehingga ada daerah yang masih belum bisa melakukan sekolah tatap muka.

Lalu, pemerintah masih memerintahkan seluruh masyarakat Indonesia untuk menjalani protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Namun di sisi lain, ternyata anak-anak bisa merasakan tekanan karena tidak bisa bersekolah tatap muka dan beraktifitas seperti bermain, ramai-ramai bersama teman-temannya akibat protokol kesehatan ini.

“Anak-anak asuh SOS merasa tertekan karena nggak boleh keluar buat main karena nggak aman. Biasanya kalau ada kebun, sedikit pada main, sekarang nggak boleh,” ujar National Director SOS Children’s Villages Indonesia, Gregor Hadi Nitihardjo, lewat Webinar pada Rabu, (21/4).

“Apalagi sekarang, media sosial menakutkan. Banyak anak-anak yang terlalu sering mencuci tangan karena melihat informasi dari media sosial tentang Covid-19,” lanjut Hadi.

Tak hanya soal protkol kesehatan, belajar di rumah karena PPKM juga memberi memberikan tekanan bagi anak. Oleh karena itu, SOS Children Villages mencoba membangun rasa nyaman dengan memfasilitasi pembelajaran daring dan memberikan kegiatan supaya anak tidak tertekan selama pandemi Covid-19 ini.

SOS Children’s Villages adalah organisasi sosial nirlaba non-pemerintah yang aktif dalam mendukung hak-hak anak dan berkomitmen memberikan anak-anak yang telah atau beresiko kehilangan pengasuhan orang tua akan kebutuhan utama mereka yaitu keluarga dan rumah yang penuh kasih sayang.

Di Indonesia, SOS Children’s Villages sudah ada sejak tahun 1972. Berawal dari Agus Prawoto, seorang tentara yang sedang bertugas di Austria, seketika jatuh hati dengan program pengasuhan ini, lalu mendirikan village pertama di Lembang, Bandung pada tahun 1972.

Disusul oleh pembangunan village kedua di Cibubur, Jakarta pada tahun 1984 yang diikuti dengan village ketiga di Semarang. Lalu di  Tabanan,  Bali  tahun  1991. Village kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan dibangun sebagai respon dari bencana tsunami di Flores dan Aceh. Village di Flores berdiri pada tahun 1995, sedangkan di Banda Aceh, Meulaboh dan Medan tahun 2004. Saat ini SOS Children’s Villages Indonesia tersebar di 9 Daerah dari Banda Aceh hingga Flores.[]