Ekonomi

Terlilit Utang Rp70 Triliun, Wamen BUMN Uraikan Rencana Penyelamatan Garuda

Wamen BUMN memaparkan rencana penyelamatan Garuda Indonesia yang saat ini memiliki utang hingga Rp70 triliun


Terlilit Utang Rp70 Triliun, Wamen BUMN Uraikan Rencana Penyelamatan Garuda
Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo (AKURAT.CO/Denny Iswanto)

AKURAT.CO, Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan masalah yang menimpa Garuda Indonesia mau tidak mau harus diselesaikan dengan upaya penyelamatan restrukturisasi melalui proses legal internasional dan moratorium dalam waktu dekat.

"Kita sudah menunjuk konsultan hukum maupun konsultan keuangan untuk memulai proses ini dan memang harus segera melakukan moratorium atau standstill dalam waktu dekat, karena tanpa moratorium cash Garuda akan habis dalam waktu yang sangat pendek sekali. Ini yang harus kami tangani segera," ujar Kartika dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Kamis (3/6/2021).

Pria yang akrab disapa Tiko itu mengatakan, pihaknya saat ini tengah secara intensif berbicara dengan pihak manajemen termasuk pemegang saham minoritas serta Kementerian Keuangan tentang bagaimana proses restrukturisasi Garuda Indonesia ke depan sehingga harus mampu mengurangi utang ini.

Jadi, lanjutnya, yang sedang dirumuskan pola-polanya maupun proses legalnya karena masalah Garuda Indonesia ini melibatkan pemberi sewa atau lessor juga ada pemberi pinjaman dalam bentuk Global Sukuk Bond yang dimiliki oleh para pemegang sukuk dari Timur Tengah.

"Dengan demikian mau tidak mau kalau kita harus melakukan negosiasi ulang secara internasional harus melalui proses legal internasional. Karena tidak bisa hanya di Indonesia mengingat justru mayoritas,daripada utang Garuda kepada lessor dan pemegang obligasi sukuk internasional," tutur Mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan permasalahan Garuda Indonesia di masa lalu terkait masalah  sewa yang melebihi biaya (cost) produksi yang wajar dan memang jenis pesawatnya terlalu banyak. Sebagai contoh Garuda Indonesia memiliki pesawat jenis Boeing 737, Boeing 777, Airbus A330, sampai dengan Bombardier sehingga efisiensinya menjadi bermasalah.

Kemudian rute-rute yang dilayani oleh Garuda Indonesia sendiri merupakan rute-rute penerbangan yang tidak menguntungkan. Sebenarnya pada tahun 2019 untuk rute domestik meraih keuntungan, namun untuk rute penerbangan luar negerinya merugi. Tentunya ini merupakan penyakit lama Garuda Indonesia.

Setelah Covid-19 timbul permasalahan baru,  utang yang awalnya berada di kisaran Rp20 triliun menjadi Rp70 triliun, ini membuat posisi Garuda Indonesia saat ini secara neraca dalam posisi unsolved karena utang dan ekuitasnya sudah tidak memadai untuk mendukung neracanya.

"Untuk itu apabila kita akan melakukan restrukturisasi yang sifatnya fundamental, utang 4,9 miliar dolar AS atau setara Rp70 triliun ini harus menurun ke kisaran 1 sampai dengan 1,5 miliar dolar AS," kata Kartika.