News

Terkuak! Nama IKN 'Nusantara' Sudah Pernah Disarankan Pakar Metafisika Ini Sejak 2014

Dr Emmanuel Alexanders atau yang kerap disapa Arkhand Bodhana Zeshaprajna pernah mengusulkan sebaiknya nama Indonesia berganti menjadi Nusantara.


Terkuak! Nama IKN 'Nusantara' Sudah Pernah Disarankan Pakar Metafisika Ini Sejak 2014
Arkhand Bodhana, Ahli Metafisika Nama (Tangkapan layar)

AKURAT.CO 'Nusantara' resmi dijadikan nama Ibu Kota Negara (IKN) baru yang berlokasi di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim).

Namun, nama Nusantara sendiri tentunya tidak asing di telinga kita. Karena pada tahun 2014 silam, Dr Emmanuel Alexanders atau yang kerap disapa Arkhand Bodhana Zeshaprajna pernah mengusulkan sebaiknya nama Indonesia berganti menjadi Nusantara. Karena menurutnya, dalam dunia metafisika nama Indonesia dinilai tidak memberi energi yang positif bagi bangsa ini.

"Dalam struktur nama Indonesia kita menemukan bahwa synchronicity value ada di (angka) 0,5 dengan coherence value (di angka) 0,2. Jadi di synchronicity 0,5 itu dalam memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada, negara ini tidak optimal," ujar Arkhand saat menjadi bintang tamu di tayangan program Kick Andy pada 6 April 2014.

baca juga:

"Dalam hal coherence, ketika kita berbicara tentang kemampuan bernegara, juga tidak optimal. (Angka) 0,2 sangat rendah. Kemudian ada harani 8 di sana, di mana menunjukkan bahwa potensi (negara) pecah yang sangat tinggi, yang retak dan bubar jalan," sambung Arkhand.

Arkhand juga menjelaskan, dari rentang tahun 2014 hingga tahun 2023 dengan beban yang berat serta intensitas yang jauh lebih kuat, ia beranggapan (dari poin harani 8) jika potensi perpecahan akan terjadi secara besar-besaran, bukan hanya dialami oleh satu dua provinsi melainkan akan terpecah belah satu dengan yang lainnya. Ia juga mencontohkan beberapa negara yang mengganti nama dengan sedikit usaha untuk kehidupan di masa depan yang lebih baik menurutnya.

"Tapi kalau kita lihat, di banyak negara juga banyak yang mengganti nama seperti misalnya yang terkenal di Asia. Dari mulai Siam berubah menjadi Muangthai, dan Muangthai berubah menjadi Thailand, misalnya begitu," ucap Arkhand.

Lalu, ia mengatakan, Indonesia harus kembali pada masa lalu dan mulai mengusulkan agar nama Indonesia berganti menjadi Nusantara. Berdasarkan parameter yang ia gunakan, nama Nusantara tepat dijadikan sebagai pengganti nama Indonesia karena memiliki synchronicity value sebesar 1,0 dengan coherence value di angka 0,8 dan tingkatan productive dengan ratio 100 persen. Hal ini menunjukkan bahwa nama Nusantara dinilai lebih baik ketimbang nama Indonesia yang kita gunakan saat ini.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, istilah nama Nusantara pertama kali disebutkaan oleh Mahapatih Kerajaan Majapahit, Gadjah Mada dalam Sumpah Palapa yang diucapkan pada tahun 1336 M. Kata Nusantara sendiri terbagi dalam dua kata, yaitu Nusa dan Antara. Kata Nusa berasal dari bahasa Jawa yang berarti Pulau dan Antara yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti jarak, perbedaan, selisih, ataupun luar.

Istilah Nusantara digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar Kerajaan Majapahit yang tersebar dari ujung Barar Sumatera hingga bagian Timur di Papua. Namun seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit, istilah Nusantara pun mulai dilupakan. Hingga diperkenalkan kembali oleh salah satu tokoh Tiga Serangkai, yakni Edward Douwes Dekker yang memaknai Nusantara sebagai nusa di antara dua benua dan dua samudera.