News

Terjerat Kasus, Pengusaha asal Korsel Minta Perlindungan Hukum ke Kejagung dan Polri

Lee Su Keun meminta perlindungan hukum usai ditetapkan tersangka atas kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan Firmanto Laksana


Terjerat Kasus, Pengusaha asal Korsel Minta Perlindungan Hukum ke Kejagung dan Polri
Gedung Kejaksaan Agung (Dok. Kejaksaan Agung)

AKURAT.CO Seorang investor berkewarganegaraan Korea Selatan, Lee Su Keun mengadu dan meminta perlindungan hukum kepada Kejaksaan Agung (Kejagung), Propam Polri, dan Biro Pengawasan Penyidikan Bareskrim Polri usai ditetapkan tersangka atas kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan Firmanto Laksana.

Lee yang juga menjabat sebagai Direktur PT Sunghyun Hightech Indonesia (SHI) merasa dikriminalisasi dalam kasus dugaan pencemaran nama baik. Hal tersebut diungkapkan kuasa hukum Lee, Tobbyas Ndiwa yang menyatakan penetapan kliennya sebagai tersangka merupakan upaya kriminalisasi.

“Klien kami telah mengadu sebagai pemohon perlindungan hukum. Jelas kriminalisasi, dan ini bisa menjadi preseden buruk bagi dunia investasi. Sebab itu kami juga mengajukan gugatan praperadilan atas penetapan tersangka terhadap klien kami ke PN Jakarta Selatan,” kata kuasa hukum Lee, Tobbyas Ndiwa kepada wartawan, Rabu (18/5).

baca juga:

Lee ditetapkan sebagai tersangka pada 19 April 2022 oleh Polda Metro Jaya berdasarkan surat Kepolisian Negara Republik Indonesia daerah Metro Jaya nomor B/5908/RES1.24/2022/Ditreskrimum. Lee ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan laporan Firmanto Laksana tentang dugaan pencemaran nama baik dan atau fitnah melalui media elektronik.

Kasus dugaan pencemaran nama baik ini bermula saat Firmanto melaporkan Lee pada 10 Mei 2021 ke Polda Metro Jaya karena diduga telah mencemarkan nama baik melalui akun instagram thgreenbelle.drivingrange. Lee dan Firmanto sendiri memiliki hubungan keperdataan terkait surat perjanjian sewa. 

“Perusahaan klien kami dan pelapor (Firmanto Laksana) mempunyai hubungan hukum keperdataan terkait surat perjanjian sewa antara PT Sunghyun Hightech Indonesia (SHI) dengan KSO Senayan National Golf (SGO),” katanya.

Kata Tobbyas, pada 30 Desember 2020, Konsorsium SGO yang merupakan persekutuan PT SKIG dan PT Ancora Investindo Internasional secara sepihak memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan PT SGI. Padahal perjanjian sewa antara PT SGI dengan KSO SGO baru berakhir pada 30 November 2027 berdasarkan surat perjanjian sewa tertanggal 11 April 2019.

“Terkait pemutusan perjanjian secara sepihak, seharusnya pihak KSO mengembalikan aset-aset milik klien kami yang telah berinvestasi sebesar Rp25 miliar lebih di sana,” kata Tobbyas.

Namun, pasca diputus perjanjian secara sepihak oleh pihak KSO, muncul laporan tentang dugaan pencemaran nama baik yang membuat Lee ditetapkan sebagai tersangka. Tobbyas berpendapat, kasus yang menimpa kliennya itu akan berdampak buruk pada iklim investasi. 

“Muncul tulisan di Instagram itu kami katakan misterius. Karena klien kami dan para saksi sudah diperiksa, yang keteranganya semua tidak tahu siapa pemilik akun instagram yang memunculkan tulisan tersebut,” jelasnya.[]