News

Kiai Said Tak Lagi Galau Setelah Dinasihati Kiai Khos dan Ziarah Makam Auliya

Sudah Diputuskan Ingin Kembali Pimpin NU


Kiai Said Tak Lagi Galau Setelah Dinasihati Kiai Khos dan Ziarah Makam Auliya
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj saat memberikan ceramah dalam acara istighosah di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (28/2). Istighosah yang mengambil tema (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO- Kiai Haji Said Aqil Siradj menyatakan kesanggupannya untuk maju sebagai calon ketua Tanfidziyah atau ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada muktamar ke-34 yang rencananya berlangsung Desember 2021.

Kiai Said mengatakan dirinya diminta para kiai sepuh dan pengurus wilayah NU di Indonesia untuk ketiga kalinya memimpin NU. Kesediaan untuk mencalonkan diri dan memimpin kembali NU ia putuskan setelah meminta nasihat kiai sepuh, istikharah, dan ziarah ke makam para wali. 

Diantara kiai sepuh yang dimintai pendapat antara lain Maulana Habib Luthfi Pekalongan, Tuan Guru Turmuzi Lombok, Kiai Haji Muhtadi Banten, Hadrasussyaikh Kiai haji Dimyati Rois Kendal, Kiyai Ali Masyhuri Tulangan Sidoarjo, Kiai Haji Basyuni Tasikmalaya, dan Kiai Haji Kafabihi Kediri. 

"Itu semua kiai sepuh yang saya anggap khos (memiliki kekhususan), yang saya anggap memiliki maqom (tempat) khusus di mata Allah," kata Kiai Said dalam konferensi pers bertajuk "Menjawab Permintaan Kiai Sepuh NU dan Pengurus NU se-Indonesia, di Jakarta, Rabu (8/12/2021). 

Kiai Said mengaku sempat merenung dan berpikir panjang atas permintaan para kiai serta para pengurus wilayah dan pengurus cabang NU untuk mencalonkan diri di muktamar Lampung. Tak hanya itu, dia keliling ziarah ke makam-makam para auliya.

Makam yang diziarahi antara lain Syekh Luar Batang Jakarta, Sunan Gunung Jati Cirebon, Sunan Ampel Surabaya, Syaikhona Bangkalan, Kiai Lirboyo, Hadrasussyaikh Hasim Asyari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Syamsuri, dan ke makam Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. 

"Seteleh saya anggap cukup saya mendapat ketengan hati, ketetapan hati, saya terima permintaan atau perintah dari para kiai sepuh. Permintaan sebagian besar pengurus PWNU dan PCNU untuk menuntaskan program terobosan lima tahun ke depan," katanya.

Kiai Said mengatakan, pencalonannya dirinya bertujuan untuk menuntaskan program terobosan yang telah ia rintis di PBNU salah satunya pembangunan perguruan tinggi NU. 

"Ketika periode Mendikbud Pak M. Nuh 24 universitas, periode Pak Mohammad Nasir jadi 38 universitas, periode Pak Nadiem ini tambah lima, jadi 43 universitas," katanya. 

Kiai Said menambahkan, dirinya juga akan meneruskan program pengiriman mahasiswa S1-S3 di berbagai bidang ke Amerika, Eropa, Australia, Rusia, China, dan India. Sementara untuk mahasiswa jurusan agama ke Maroko, Al-Azhar dan Saudi Arabia.

"Itu semua akan kita teruskan," kata Kiai Said di lokasi acara yang juga dihadiri politisi PKB Abdul Kadir Karding dan Sekjen PBNU Helmy Faisal Zaini.

Kiai Said lahir 3 Juli 1953 di Cirebon, Jawa Barat. Dia terpilih menjadi ketua umum PBNU pertama kali dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, Sulawesi Selatan. Kiai Said terpilih menjadi ketua umum PBNU periode 2010-2015 setelah unggul dukungan dalam muktamar dengan 294 suara dari rivalnya Slamet Effendi Yusuf yang mendapat 201 suara pada pemilihan putaran kedua.

Kemudian pada tahun 2015, pada Muktamar NU Ke 33 di Jombang, Kiai Said kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa khidmat 2015-2020. Pimpinan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan dan putra kedua pendiri Pondok Pesantren KHAS Kempek Kiai Aqiel Siroj ini menang dengan mengumpulkan 287 dari 412 suara muktamirin. Unggul telak dari dua kandidat lainnya,  yakni As'ad Said Ali yang meraih 107 suara dan Kiai Salahudin Wahid 10 suara.[]