News

Terbaru! Polri Sebut Dana Donasi Boeing Diselewengkan ACT Bertambah Jadi Rp107,3 Miliar

Terbaru, total dana CSR dari Boeing untuk korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang diselewengkan ACT bertambah hingga mencapai Rp107,3 miliar.


Terbaru! Polri Sebut Dana Donasi Boeing Diselewengkan ACT Bertambah Jadi Rp107,3 Miliar
Mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin (tengah) berjalan usai menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (15/7/2022). Ahyudin diperiksa untuk kesekian kalinya sebagai saksi berkaitan dengan kasus dugaan penyelewengan dana sosial ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang terjadi pada 2018. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri terus mengusut aliran dana donasi Lion Air JT-610 yang dilakukan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Terbaru, total dana corporate social responsibility (CSR) dari Boeing untuk korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang diselewengkan oleh yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) bertambah hingga mencapai Rp107,3 miliar. Padahal sebelumnya, jumlah dana yang diselewengkan berjumlah Rp68 miliar.

"Dana sosial Boeing yang diselewengkan pada awalnya berjumlah sekitar Rp40 miliar, namun setelah dilakukan audit bertambah menjadi Rp68 miliar. Kemudian, pada hari Jumat minggu lalu kembali dilakukan pendalaman dengan hasil pemeriksaan auditor bahwa Dana Sosial Boeing yang diselewengkan bertambah menjadi Rp107,3 miliar," kata Kabagpenum Div Humas Polri Kombes Nurul Azizah saat konferensi Pers, Jakarta, Senin (8/8/2022).

baca juga:

Lebih lanjut, Nurul mengatakan, dana sosial Boeing yang digunakan untuk pembangunan sarana sosial hanya dikucurkan sebanyak Rp30,8 miliar.

"Didapati fakta juga bahwa ternyata Dana Sosial Boeing yang digunakan untuk kegiatan pembangunan sarana sosial sesuai proposal ahli waris, berdasarkan hasil audit diduga hanya sebesar Rp30,8 miliar," lanjutnya.

Berikut ini rinciannya:

- Dana pengadaan Armada Rice Truk Rp2.023.757.000;

- Dana pengadaan Armada Program Big Food Bus Rp2.853.347.500;

- Dana pembangunan pesantren peradaban Tasikmalaya Rp8.795.964.700;

- Dana talangan kepada Koperasi Syariah 212 sebesar Rp10.000.000.000;

- Dana talangan kepada CV CUN Rp3.050.000.000;

- Dana talangan kepada PT MBGS Rp7.850.000.000;

- Dana untuk operasional yayasan (gaji, tunjangan, sewa kantor, dan pelunasan pembelian kantor);

- Dana untuk yayasan lain yang terafiliasi ACT.

Dalam kasus ini, Bareskrim Polri telah menetapkan Ahyudin (A) selaku pendiri dan mantan Ketua Yayasan ACT, dan Ibnu Khajar (IK) selaku Ketua Yayasan ACT. Kemudian HH (Heryana Haryani) sebagai Dewan Pengawas ACT dan Novariadi Imam Akbari (NIA) yang merupakan anggota pembina periode di kepemimpinan A.

ACT diduga menyelewengkan dana dari Boeing hingga Rp34 miliar dari dana Rp138 miliar yang masuk ke ACT. Dana tersebut digunakan tidak sesuai aturan salah satunya dana itu masuk ke koperasi 212.

Selain itu, penyidik menemukan ada Rp2 triliun dana lainnya yang dikelola yayasan tersebut. Dana itu dihimpun dari 2005-2020. Para tersangka diduga menyelewengkan dana tersebut sebesar Rp450 miliar.

Atas perbuatannya, para tersangka dipersangkakan Pasal 372 dan 374 KUHP, Pasal 45a Ayat 1 Jo Pasal 28 Ayat 1 UU ITE. Kemudian Pasal 70 Ayat 1 dan 2 Jo Pasal 5 UU Nomor 28 Tahun 2004 tentang yayasan. Serta Pasal 3,4 dan 5 tentang TPPU dan Pasal 55 Jo 56 KUHP dengan ancaman 20 tahun penjara. []