Tech

Terapkan Pengawasan Berbasis Teknologi, OJK Resmikan Aplikasi OBOX untuk BPR dan BPRS

Pemanfaatan teknologi untuk membantu pengawasan sektor perbankan maupun sektor jasa keuangan lainnya.


Terapkan Pengawasan Berbasis Teknologi, OJK Resmikan Aplikasi OBOX untuk BPR dan BPRS
Ilustrasi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO Penggunaan aplikasi OJK-BOX atau OBOX untuk BPR dan BPRS sebagai upaya menerapkan pengawasan berbasis teknologi informasi diresmikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara virtual pada hari ini, Selasa (2/11/2021). Kehadiran aplikasi tersebut digunakan untuk meningkatan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi OJK. 

"Aplikasi OBOX untuk BPR dan BPRS ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas penyampaian data, pelaksanaan kegiatan pemeriksaan (onsite) oleh pengawas, serta meningkatkan risk awareness bagi BPR dan BPRS sehingga dapat mengidentifikasi potensi permasalahan secara lebih dini," ujar Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida dalam keterangan persnya di laman OJK. 

Senada dengan Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, aplikasi OBOX akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan yang selama ini rutin dilakukan. Di antaranya dengan pengurangan waktu pemeriksaan di bank (on-site examination), tanpa mengurangi kualitas hasil pemeriksaan berkas data dan informasi yang dapat diakses melalui OBOX BPR dan BPRS.

Implementasi aplikasi tersebut dilakukan melalui dua fase. Pada fase pertama, telah dilakukan Pilot Project kepada 44 BPR dan BPRS yang merepresentasikan keterwakilan BPR dan BPRS di seluruh wilayah Indonesia selama Agustus 2021. Implementasi fase kedua mencakup seluruh BPR dan BPRS yang akan dimulai pada November 2021.

Sementara itu, pengembangan dan implementasi dari aplikasi ini merupakan salah satu langkah OJK dalam pengawasan bank berbasis teknologi. Sebelumnya pada 2019, OBOX telah diimplementasikan juga untuk pengawasan Bank Umum.

Selain menggunakan aplikasi OBOX, pengawasan sektor perbankan ke depannya juga akan didukung dengan serangkaian program pengembangan lainnya yang telah tertuang dalam Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia 2020-2025. Antara lain, pemanfaatan big data analytics dan artificial intelligence yang memungkinkan adanya output data yang bersifat diagnostic, predictive dan prescriptive yang mampu menghasilkan otomasi indikasi kerentanan awal.

Adanya dukungan pemanfaatan teknologi tersebut, diharapkan pengawasan perbankan maupun sektor jasa keuangan lainnya, akan semakin efektif dan efisien. Dengan demikian, akan semakin memperkuat industri jasa keuangan yang kuat, stabil, dan berdaya saing tinggi.