News

Tepuk Tangan Serentak, Para Pejuang Anti-Kudeta Myanmar Kompak Lawan Militer

Para pejuang anti-kudeta di Myanmar kembali melakukan aksi yang menyedot perhatian dengan bertepuk tangan untuk melawan militer hingga menyerukan revolusi


Tepuk Tangan Serentak, Para Pejuang Anti-Kudeta Myanmar Kompak Lawan Militer
Dalam foto selebaran ini, warga desa menggelar protes menentang kudeta militer, di kota Launglon, Myanmar, Minggu (4/3) (Reuters via Asia One)

AKURAT.CO, Para pejuang anti-kudeta di Myanmar kembali melakukan aksi yang menyedot perhatian. Pasalnya, dalam protes terbarunya, para demonstran kompak bertepuk tangan untuk melawan militer hingga menyerukan revolusi.

Mengutip CNA, aksi tepuk tangan serentak untuk melawan junta berlangsung pada Senin (5/4). Ini tepat saat Brunei Darussalam dan Malaysia menyatakan dukungan untuk pertemuan ASEAN untuk membahas Myanmar. Pada hari itu, tepuk tangan menggema mulai pukul 5 sore waktu setempat. Warga di berbagai kota utama Yangonlah yang lebih dulu memulai aksi tepuk tangan.

"Tindakan itu untuk menghormati Organisasi Bersenjata Etnis dan pemuda pertahanan Gen Z dari Myanmar termasuk Yangon yang berjuang dalam revolusi," tulis Ei Thinzar Maung, seorang pemimpin protes, di Facebook.

Hampir 600 orang meregang nyawa sejak militer meluncurkan kudeta dengan menggulingkan pemimpin sipil Aung Suu Kyi 1 Februari lalu. Sejak itu, warga sipil mulai memprotes dan membentuk pembangkangan sipil untuk memprotes anti-kudeta.

Saban hari, meski dalam kelompok-kelompok kecil, para pengunjuk rasa pun tak lelah menyuarakan dikembalikannya demokrasi. Oleh sejumlah pengunjuk rasa, gerakan itu adalah revolusi musim semi. Revolusi ini tercermin dalam bentuk pawai jalanan, kampanye pembangkangan sipil, hingga tindakan pemberontakan unik yang diorganisir melalui media sosial.

Kendati demikian, tumbuhnya gerakan revolusi dari warga pada ujungnya disambut keras oleh junta. Berbagai cara pun terlihat dilakukan oleh junta untuk menekan semangat warga yang menuntut keadilan. Di antaranya termasuk membantai demonstran hingga anak-anak dengan peluru tajam serta memblokir broadband nirkabel dan data seluler.

Pada Senin kemarin, satu orang kembali meregang nyawa di wilayah Sagaing. Hingga kini, identitasnya memang belum diketahui. Namun, menurut Myanmar Now, korban tewas tepat ketika pasukan keamanan membubarkan protes.

Sementara itu di Mandalay, pendemo ramai menjunjung plakat Suu Kyi. Dalam seruannya, mereka juga kompak menyerukan intervensi internasional untuk memecahkan konflik politik yang tak berujung di negara mereka.

Brunei, ketua dari 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), memang telah memberikan dukungannya untuk pertemuan membahas Myanmar.