News

Tepis Rumor Kudeta, Xi Jinping Muncul di TV Pemerintah, Bakal Jadi Presiden Seumur Hidup?

Tepis Rumor Kudeta, Xi Jinping Muncul di TV Pemerintah, Bakal Jadi Presiden Seumur Hidup?
Presiden China Xi Jinping muncul di buletin primetime jaringan televisi pemerintah CCTV pada hari Selasa (27/9). Ia mengunjungi sebuah pameran di Beijing ( Screengrab via Twitter/@OliviaSiongCNA)

AKURAT.CO  Di tengah isu kudeta China, Presiden Xi Jinping muncul kembali di televisi pemerintah.

Penampilan terbaru Xi itu datang pada Selasa (27/9) beberapa hari setelah ia absen dari pandangan publik. Ketidakhadirannya telah memicu rumor liar tentang nasib pemerintahannya yang berada di ujung tanduk. 

Xi, yang kini berusia 69 tahun, ditampilkan sedang mengunjungi sebuah pameran di Balai Pameran Beijing dengan tema 'Menempa Menuju Era Baru'.

baca juga:

Dalam siaran itu, Xi didampingi oleh Perdana Menteri Li Keqiang dan para pemimpin tinggi lainnya. Xi, yang juga ketua Partai Komunis yang berkuasa dan pemimpin Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), tampak sedang melihat-melihat beberapa pajangan. Ia juga terlihat mengomentari kemajuan ekonomi China selama dekade terakhir.

Kunjungan itu adalah penampilan pertama Xi di televisi sejak ia kembali dari pertemuan puncak regional di Uzbekistan akhir pekan lalu.

Karena peraturan ketat pandemi China, Xi harus dikarantina selama seminggu setelah kembali dari Uzbekistan.

Sistem China yang buram kerap menimbulkan desas-desus tentang pertikaian politik atau percobaan kudeta. Ini terjadi meski Beijing sudah berupaya stabil, dengan negara menjadi pengawas otoriter yang menindak tanpa henti terhadap tanda-tanda perbedaan pendapat.

Sementara itu, Xi telah secara luas dianggap sebagai pemimpin China yang paling kuat dalam beberapa dekade. Sejauh ini, ia diketahui tidak memiliki penantang aktif. Xi bahkan mampu menghapus batasan masa jabatan konstitusional, yang memungkinkan dia untuk memerintah seumur hidup jika dia mau.

Bukan hal yang aneh bagi para pemimpin China untuk tidak terlihat selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Misalnya, saat mereka harus menghadiri pertemuan politik informal di resor tepi pantai Beidaihe setiap musim panas.

Namun, absennya Xi baru-baru ini telah menjadi pengecualian, dan menjadi inti dari rumor kudeta. Sebab, ketidakhadirannya datang hanya beberapa beberapa minggu sebelum diadakannya kongres partai kunci, yang diadakan setiap lima tahun sekali.

Xi, yang sudah berkuasa selama 10 tahun, diperkirakan akan menerima masa jabatan ketiganya sebagai pemimpin partai di kongres yang dimulai 16 Oktober. Prediksi ini, jika benar, akan mematahkan tradisi yang membatasi pemimpin China hanya boleh menjabat dua periode.

Pakar politik China Kerry Brown juga telah mengaku skeptis bahwa ada hal lain yang perlu dianalisis dari ketidakhadiran Xi yang singkat.

"Saya kira jika ada ketidakpuasan mendalam dengan kepemimpinan Xi di kalangan elit ... Kita akan melihat setidaknya sedikit bukti.

"Dan Saya tidak berpikir kita telah melihat banyak bukti tentang itu," kata Brown, profesor Studi China dan direktur Institut Lau China di King's College London. 

Menurut Brown, partai yang berkuasa secara inheren berupaya menghindari risiko. Setiap orang atau kelompok yang berusaha melakukan tindakan radikal, seperti kudeta akan mengalami kesulitan untuk menyerang benteng yang kompleks, yang telah dibangun di sekitar Xi.

Desas-desus tentang kudeta dan pertikaian bukanlah hal yang aneh menjelang tanggal politik yang sensitif. Namun, perlu diingat bahwa PLA, yang menjadi sayap militer partai, selama ini telah didisiplinkan oleh kampanye anti-korupsi yang luas.

"Saya pikir itu angan-angan yang mungkin (hanya) terjadi di Hong Kong dan di tempat lain. Saya tidak akan berpikir itu (kabar kudeta) sangat kredibel," tambah Brown, sebagaimana dilaporkan AP.[]