News

Tentang Perbedaan Pandangan Para Ulama Terhadap Najis atau Tidaknya Kotoran Hewan


Tentang Perbedaan Pandangan Para Ulama Terhadap Najis atau Tidaknya Kotoran Hewan
Ilustrasi kandang kambing yang pernah dijadikan tempat salat Rasulullah (pixabay.com)

AKURAT.CO, Pada umumnya, kita mengenal bahwa kotoran hewan baik dari hewan yang halal maupun yang tidak hukumnya adalah najis. Karenanya, apabila semisal ada kotoran ayam yang menempel di baju seseorang ketika salat, maka salat orang tersebut menjadi tidak sah karena membawa najis.

Padahal, seperti yang sudah diketahui bahwa sebelum salat kita harus menyucikan diri terlebih dahulu dari hadas maupun najis.

Pendapat yang menyatakan bahwa seluruh kotoran hewan hukumnya najis adalah pendapat dari kalangan mazhab Syafii.

Akan tetapi, beberapa ulama mazhab Syafii ada yang memiliki pandangan berbeda terhadap status hukum kotoran hewan tersebut.

Imam Abu Said Al-Ustukhri dan Imam Ar-Rawyani dari kalangan mazhab Syafii berpandangan bahwa kotoran hewan bukan merupakan benda yang tergolong najis. Pendapat ini layaknya pandangan yang dipegang oleh mazhab Maliki dan mazhab Hanbali.

Syekh Khatib Asy-Syirbini, dalam kitab Al-Iqna’ fi Hilli Alfadz al-Minhaj, juz 1 menjabarkan persoalan ini.

Menurutnya, "Cabang permasalahan tentang sesuatu yang terpisah dari bagian dalam hewan. Sesuatu yang terpisah dari bagian dalam hewan terbagi menjadi dua. Pertama, cairan yang tidak terdapat proses pengumpulan dan perubahan dari organ dalam hewan, hanya sebatas meresap saja.

Kedua, cairan yang terdapat proses perubahan dan berkumpul di organ dalam hewan lalu cairan tersebut keluar. Contoh cairan jenis pertama adalah air liur, air mata, keringat, dan ingus, maka hukum dari cairan jenis ini tergantung dengan status hewan yang mengeluarkan cairan tersebut.

Jika hewan dihukumi najis, maka cairan tersebut najis. Jika keluar dari hewan yang tidak najis, maka cairannya dihukumi suci.”

Selanjutnya, Syekh Khatib juga menjelaskan secara lebih rinci.

"Contoh sesuatu yang keluar dari hewan jenis kedua adalah darah, urin, tinja, dan muntahan, maka seluruhnya dihukumi najis ketika keluar dari seluruh jenis hewan, baik itu hewan yang dapat dikonsumsi dagingya ataupun tidak dapat dikonsumsi.

Dalam mazhab Syafii terdapat pendapat bahwa urin dan tinja dari hewan yang dapat dimakan dagingnya dihukumi suci. Pendapat ini merupakan salah satu pandangan Syekh Abi Sa’id al-Ustukhri yang berasal dari Ashab (murid) Imam Syafii.

Pendapat ini dipilih oleh Imam Ar-Rawyani dan merupakan pendapat dalam mazhab Maliki dan Ahmad. Sedangkan pendapat yang lebih dikenal dalam Mazhab Syafii adalah najis." (Syekh Khatib asy-Syirbini, al-Iqna’ fi Hilli Alfadz al-Minhaj, juz 1, hal. 5)

Mereka para ulama yang menilai bahwa kotoran hewan dari hewan yang tidak najis seperti kambing dan unta, hukumnya tidak najis berpijak pada sebuah hadis berikut:

"Rasulullah senang salat di mana pun waktu salat tiba. Dan Rasulullah pernah melaksanakan salat di kandang kambing." (HR. Bukhari)

Meski demikian, mereka yang mengatakan bahwa seluruh kotoran hewan hukumnya najis mengontekskan hadis di atas dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, Rasulullah ketika salat di kandang kambing beliau tidak menyentuh kotoran kambing yang ada di kandang tersebut.

Kedua, jika kambing dijadikan patokan hewan yang suci, maka seharusnya boleh salat di kandang unta. Padahal ini berseberangan dengan hadis Rasulullah di lain kesempatan.

"Salatlah kalian di kandang kambing, janganlah kalian salat di kandang unta." (HR. Tirmidzi)

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa kendati dalam persoalan kotoran hewan masih terdapat perbedaan, tetapi alangkah baiknya kita mengambil hikmah dari perbedaan tersebut dengan bijak.

Adapun di Indonesia karena mayoritas penduduknya bermazhab Syafii, maka bisa dikatakan semua kotoran hewan baik dari hewan yang halal atau tidak adalah najis sebagaimana manusia yang merupakan makhluk mulia kotorannya juga najis.

Wallahu a'lam.[]