Ekonomi

Tengok Nih Pilihan Investasi Menarik di Tahun Depan!

Penghujung tahun 2020, angin segar mulai bertiup untuk dunia investasi


Tengok Nih Pilihan Investasi Menarik di Tahun Depan!
Ilustrasi investasi dengan modal kecil (Pixabay)

AKURAT.CO Bank Commonwealth menyatakan penghujung tahun 2020, angin segar mulai bertiup untuk dunia investasi. Pihaknya pun menyarankan agar para investor membuat strategi dalam berinvestasi di tahun 2021 untuk berinvestasi secara optimal.

“Di tahun depan, kami masih overweight di reksa dana saham dan obligasi atau reksa dana pendapatan tetap untuk investor yang memang fokusnya untuk mendapatkan fixed return atau untuk diversifikasi investasi,” tutur Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya melalui keterangan resminya di Jakarta, Selasa (22/12/2020).

Ivan menjelaskan, kelas aset saham yang dapat diwakilkan oleh reksa dana saham merupakan pilihan investasi yang masih menarik di tahun 2021. Pemilihan reksa dana saham dibandingkan saham adalah karena ada manager investasi yang akan melakukan pemilihan portofolio dan pendekatan portfolio memberikan keuntungan diversifikasi dibandingkan membeli saham langsung.

Selain itu, lanjut Ivan, ada beberapa katalis positif untuk kelas aset saham selain distribusi vaksin COVID-19 yakni Omnibus Law Cipta Kerja yang disetujui di Oktober 2020 diperkirakan dapat mendorong FDI/ Foreign Direct Investment masuk ke Indonesia dan berdampak positif terhadap pasar saham, Sovereign Wealth Fund (SWF) yang akan berfokus pada pengembangan infrastruktur di Indonesia dan diperkirakan akan memiliki multiplier efek ke perkembangan ekonomi secara keseluruhan, serta aliran dana asing yang akan masuk kembali ke developing market termasuk Indonesia.

Tingkat suku bunga yang mendekati 0% di developed market akan mendorong investor untuk mencari aset yang memberikan yield lebih tinggi.

“Dengan adanya katalis positif tersebut, kami berharap ekonomi akan turn around di 2021. Dan dalam story recovery, kelas aset saham biasanya akan berlari lebih cepat,” jelas Ivan.

Ivan juga menambahkan, instrumen obligasi pemerintah masih menarik untuk dikoleksi agar investasi tetap terdiversifikasi dengan baik dan mengurangi risiko. Banyak analis memperkirakan di tahun 2021 Bank Indonesia (BI) hanya akan melakukan 1-2x pemotongan suku bunga BI. Sedangkan, kinerja obligasi di tahun 2020 ditopang oleh pemotongan BI7DRR 5x dengan total 1,25%.

“Pergerakan harga obligasi akan berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga, apabila tingkat suku bunga memiliki kecenderungan untuk turun maka akan berdampak positif untuk harga obligasi. Dengan pemotongan yang lebih terbatas maka potensi upsidetahun depan juga akan lebih terbatas,” kata Ivan.

Perlu diingat bahwa selalu ada volatilitas di market, baik yang terduga maupun tidak terduga. Untuk keperluan diversifikasi, obligasi pemerintah tetap menjadi pilihan untuk investor, terutama untuk short term tenor yang memiliki fluktuasi harga yang minimum.