News

Tendensi Menjatuhkan Lawan Politik Pertajam Politik Identitas

Tumbuh suburnya politik identitas juga turut dipengaruhi oleh rendahnya kualitas pendidikan dan permasalahan kemiskinan. 


Tendensi Menjatuhkan Lawan Politik Pertajam Politik Identitas
Ujang Komaruddin (Foto: Istimewa)

AKURAT.CO, Direktur eksekutf Indonesia Political Review, Ujang Komarudin mengatakan dalam kontestasi politik personal branding atau pembangunan citra seseorang atau partai adalah hal yang wajar.

Namun menurut dia, hal itu kerap menyebabkan tumbuh suburnya politik identitas yang memecah belah.

"Faktor pertama adalah upaya pembangunan citra publik figur untuk mendapatkan dukungan. Bagaimana seorang tokoh membangun pencitraan makanya setiap figur akan membangun kekuatan pencitraan yang luar biasa," kata Ujang dalam diskusi Empat Pilar MPR RI bertajuk "Merawat Persatuan dan Menolak Politik Identitas" di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (27/10/2021). 

baca juga:

Akademisi Universitas Al Azhar Indonesia ini mengatakan ada faktor lain yang lebih sering meruncingkan politik identitas. Yakni keinginan untuk menjatuhkan lawan politik.

"Yang kedua, membusuk-busuki lawan politik. Politik identitas dikompori dari yang kedua ini," terangnya. 

Meski demikian, Ujang mengatakan bahwa tumbuh suburnya politik identitas juga turut dipengaruhi oleh rendahnya kualitas pendidikan dan permasalahan kemiskinan. 

Ia menyampaikan bahwa tidak mungkin dapat membangun demokrasi yang sehat jika tingkat pendidikan masyarakat masih rendah ditambah dengan permasalahan kesmiskinan.

Untuk itu, menurut Ujang, yang bisa dilakukan bukanlah menghilangkan politik identitas tetapi meminimalisir dampaknya.

"Membangun demokrasi yang sehat dengan kemiskinan dan kebodohan, tidak bisa," tegas Ujang dalam forum diskusi tersebut. 

Ujang menjelaskan bahwa di tengah kondisi masyarakat yang demikian, salah satu hal yang mungkin dilakukan untuk meredam dampak buruk dari politik identitas adalah memunculkan tokoh-tokoh politik yang negarawan.

Maksudnya adalah tokoh yang tidak menggunakan celah kesempatan untuk berkampanye menggunakan sentimen identitas.

"Kalau tokoh (politik) hadir sebagai negarawan tidak akan ada politik identitas," tandasnya.[]