Lifestyle

Tempat Muncul Lesi Cacar Monyet Kini Berbeda, Cara Penyembuhan Masih Sama?

Pasien cacar monyet  saat ini mengalami gejala lesi yang berbeda, daripada kasus cacar monyet yang pertama kali ditemukan di Benua Afrika.

Tempat Muncul Lesi Cacar Monyet Kini Berbeda, Cara Penyembuhan Masih Sama?
Ilustrasi vaksinasi virus cacar monyet. ( AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Jika pada awal kasus, lesi cacar monyet bisa tersebar di seluruh tubuh penderitanya.

Akan tetapi, menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Robert Sinto, kebanyakan pasien cacar monyet  saat ini mengalami gejala lesi yang berbeda, daripada kasus cacar monyet yang pertama kali ditemukan di Benua Afrika.

"Kalau membandingkan, ada istilah 2022 lesion. Jadi lesi yang dilaporkan di 2022 ini dilaporkan terbatas di organ-organ tubuh tertentu saja, yang tampilannya berbeda dengan lesi klasik yang ada di Afrika," ujar Robert Sinto dalam webinar kesehatan FKUI, dikutip pada Rabu (10/8/2022).

baca juga:

Sinto juga mengatakan penyakit cacar monyet mengalami perubahan pada tampilan klinisnya.

Alhasil, jika hanya mendiagnosis pasien berdasarkan kemiripan dengan cacar air, kemungkinan besar akan melewatkan tampilan lesi cacar monyet yang sebenarnya.

Meski pada laporan 500 kasus cacar monyet di 16 negara pada April-Juni 2022, yang dipaparkan Robert Sinto, pasien umumnya melaporkan adanya lesi pada kulit, tidak sedikit juga yang mengalami pembengkakan kelenjar getah bening saat terinfeksi.

"Lokasi lesinya tidak semata-mata pada genital, di dubur atau kemaluan. Telapak tangan yang dulu dibedakan dengan cacar air, ternyata hanya 10 persen saja pasien yang mengalami," katanya.

Meski lokasi lesi berbeda, penyakit cacar monyet memang diketahui sebagai self-limiting disease, artinya seiring berjalannya waktu infeksi akan sembuh dengan sendirinya.

"Jadi memang dia (cacar monyet) bisa sembuh sendiri, yang bisa kita lakukan adalah melihat apakah muncul komplikasi atau tidak," terangnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, berdasarkan data dari 70 pasien cacar monyet yang memerlukan perawatan di rumah sakit hanya 13 persen.

"Mereka adalah pasien yang mengeluhkan nyeri, infeksi sekunder, memiliki infeksi di area lain, epiglogtitis atau peradangan yang menghalangi udara ke paru-paru, dan miokarditis (peradangan pada jantung)," jelasnya.

Adapun manajemen pengobatan kasus cacar monyet bersifat simptomatis di rumah sakit, gejala dan terapi suportif bisa berupa:

Meringankan keluhan

Mempercepat penyembuhan lesi

Mencegah demam

Mengurangi kehilangan cairan

Mengurangi nyeri

Mencegah timbulnya jaringan parut

Mencegah terjadinya infeksi sekunder

Disertai isolasi segera pada kasus infeksi monkeypox.

"Apakah ada antivirus cacar monyet? Di luar negeri ada, tapi kita di luar negeri pun hanya digunakan pada orang yang kekebalan tubuhnya sedemikian rendah, sehingga ditakutkan terjadi komplikasi. Jadi tidak rutin diberikan pada semua pasien yang terdiagnosis cacar monyet," sambung Robert.