News

Telisik Sidik Jari di Pelatuk Pistol Penembak Brigadir J, Komnas HAM Jadwalkan Pemeriksaan Tim Inafis

Telisik Sidik Jari di Pelatuk Pistol Penembak Brigadir J, Komnas HAM Jadwalkan Pemeriksaan Tim Inafis
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Komnas HAM, di Jakarta, Jumat (5/8/2022). Komnas HAM mengakui telah mendapatkan informasi dari Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri bahwa sebanyak 15 unit gawai telah diperiksa datanya terkait kasus penembakan Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di rumah dinas mantan Kepala Divisi Propam Polri Irjen Pol. Ferdy Sambo. AKURAT.CO/ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat (Antara Foto)

AKURAT.CO, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyelidiki dugaan pelanggaran HAM pada kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Rencananya, Komnas HAM bertemu dengan inafis untuk meminta keterangan tentang sidik jari yang tertinggal di pelatuk pistol saat digunakan dalam peristiwa penembakan Brigadir J.

"Ini biar klir, ya soal sidik jari itu, itu berangkat dari Inafis. Bukan dari Balistik... Kami sedang merencanakan sesegera mungkin ketemu sama Inafis," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, Rabu (10/8/2022).

Anam menjelaskan, Inafis memiliki peran penting dalam mengusut kasus penembakan Brigadir J. Terutama tentang identifikasi sidik jari dan memperjelas sudut penembakan.

baca juga:

Sementara, lanjut Anam, Balistik Polri telah menunjukan nomor registrasi senjata yang disita Tim Khusus Polri sebagai bukti adanya peristiwa penembakan itu. Namun, identitas pemilik senjata tidak diberi tahu.

"Jadi senjata hanya ditunjukan nomornya. Nomer registrasinya. Tidak orangnya. Bukan orangnya. Identitas yang ada di administrasinya kami dikasih lihat," ujarnya. 

Dia mengatakan, pemeriksaan yang dilakukan selama ini, kian lama kian terang. Namun, Komnas HAM hanya akan fokus pada kesimpulan ada atau tidaknya dugaan pelanggaran HAM dalam peristiwa tersebut. 

"Kami sedang berproses satu tahap dengan tahap yang lain. Semakin lama, peristiwanya semakin terang. Jadi kalau ngumumin siapa pelakunya macem Komnas HAM nanti menyimpulkannya ini terjadi pelanggaran HAM atau tidak," ungkapnya.

Dalam kasus ini, Tim Khusus telah menetapkan empat orang tersangka diantaranya Bharada E, Bripka RR, KM, dan Ferdy Sambo.

Keempat tersangka disangkakan Pasal 340 subsider Pasal 338, juncto Pasal 55, 56 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama-lamanya 20 tahun.[]