Rahmah

Teladan Kemerdekaan dalam Kisah Pembebasan Kota Makkah

Nabi pernah melakukan pembebasan kota Makkah.


Teladan Kemerdekaan dalam Kisah Pembebasan Kota Makkah
Ilustrasi agama Islam (pixabay.com/abdullah_shakoor)

AKURAT.CO Bangsa Indonesia baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-77. Berbagai kegiatan positif dilakukan masyarakat untuk memeriahkan acara tahunan itu.

Hari kemenangan juga pernah dirasakan oleh Rasulullah atas capaiannya yang dalam sejarah Islam disebut sebagai pembebasan kota Makah atau Fathu Makkah. Pembebasan ini merupakan rangkaian sejarah pembebasan Islam.

Sebelumnya, kota Makkah merupakan wilayah yang 'dijajah' oleh kelompok Quraisy. Para pembesar mereka menghalangi Nabi dalam berdakwah. Tidak hanya itu, mereka juga menerapkan sistem sosial yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Mereka mengotori Makkah dengan ibadah-ibadah yang di luar tuntunan syariat.

baca juga:

Saat berita tentang akan adanya Fathu Makah yang akan dilaksanakan pada 10 ramadhan tahun ke 8 Hijriah, ada sebagian sahabat yang membayangkan bahwa pembebasan tersebut akan berlangsung dengan sengit, dengan diwarnai pertumpahan darah.

Dugaan tersebut didasari dengan perbandingan ambisi orang-orang Quraisy Makah yang memusuhi Nabi yang selalu ingin membombardir umat Islam. Dalam kitab Tarikh al-Thabari karya karya Abu Ja’far al-Thabari diceritakan ada perwakilan dari kalangan sahabat yang memiliki keluarga di Makah, mereka mengkhawatirkan jika nanti akan terjadi pertumpahan darah di kota suci itu.

Kegelisahan yang sama juga dituliskan oleh Abu Ja’far al-Thabari atas syair yang dilantunkan oleh Umar bin Salim berikut:

إِنَّ قُرَيْشًا أَخْلَفُوكَ الْمَوْعِدَا … وَنَقَضُوا مِيثَاقَكَ الْمُؤَكَّدَاوَجَعَلُوا لِي فِي كَدَاءَ رَصَدَا … وَزَعَمُوا أَنْ لَسْتُ أَدْعُو أَحَدَاوَهُمْ أَذَلُّ وَأَقَلُّ عَدَدَا … هُمْ بَيَّتُونَا بِالْوَتِيرِ هُجَّدَا

Artinya: "Sungguh orang-orang Quraisy yang memusuhimu, mereka menyalahi perjanjian denganmu dan mereka menjadikanku sebagai penghalang, serta mengira bahwa aku bukanlah satu-satunya yang menyeru mereka. Sementara saat ini, mereka dalam keadaan lemah serta jumlah pasukan yang sedikit. Mereka akan terbangun jika mendengar ada keganjilan. Dari narasi tersebut, kemudian Umar bin Salim menambahkan, maka mereka akan memerangi kami dalam keadaan rukuk dan sujud."

Nabi kemudian Rasulullah menjawab semua itu dengan kebalikannya. Rasulullah menyatakan bahwa hari itu bukan hari pembalasan, namun hari kasih sayang

Dalam hadis yang populer Rasulullah berkata:

Sumber: Cariustadz.com