News

Teladan dari Rasulullah agar Memaafkan Kesalahan Orang Lain


Teladan dari Rasulullah agar Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Ilustrasi maaf (pixabay.com/ kalhh)

AKURAT.CO, Manusia memang ditakdirkan sebagai tempatnya salah dan lupa. Kesalahan yang dilakukan ada yang disengaja maupun tidak disengaja. Ketika kita melakukan kesalahan, hal yang harus kita lakukan adalah mengakui kesalahan itu dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.

Adapun ketika orang lain melakukan kesalahan kepada kita, hal yang harus kita lakukan adalah memaafkan kesalahan orang lain tersebut.

Meski demikian, diakui atau tidak, memberi maaf kepada orang lain jauh lebih sulit daripada meminta maaf. Padahal, mudah memberi maaf merupakan ajaran Rasulullah saw dan menjadi salah satu sifat terpuji beliau yang harus kita teladani.

Dikisahkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah bersumpah untuk tidak memaafkan kesalahan Misthah bin Utsatsah dan tidak pula memberi nafkah kepadanya karena telah menuduh Siti Aisyah berzina. Siti Aisyah sendiri merupakan putri Abu Bakar Ash-Shidiq dan istri Rasulullah saw.

Atas kejadian tersebut maka turunlah ayat Al-Qur'an dalam Surah An-Nuur ayat 22.

Teladan dari Rasulullah agar Memaafkan Kesalahan Orang Lain - Foto 1
ISTIMEWA


Artinya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Karena turunnya ayat tersebut, sikap Abu Bakar Ash-Shidiq akhirnya melunak terhadap Misthah bin Utsatsah. Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sesungguhnya aku senang jika Allah mengampuniku". Kemudian Abu Bakar pun menarik ucapannya dan kembali memberi nafkah kepada Misthah seperti sedia kala.

Pemaaf merupakan sifat yang diajarkan Nabi saw kepada siapapun. Sebut saja ketika Nabi saw mengalami berbagai penyiksaan, percobaan pembunuhan, pengkhianatan, dan berbagai kejadian buruk lainnya.

Seperti kisah yang diriwayatkan Anas ra, suatu hari ada seorang perempuan Yahudi yang mendatangi Rasulullah saw dengan membawa daging kambing yang sudah diberi racun. Tanpa sepengetahuan Rasulullah, daging kambing itu dimakan hingga akhirnya terungkap jika daging tersebut mengandung racun.

Rasulullah saw kemudian bertanya kepada wanita tersebut, "Mengapa engkau melakukan itu?"

Si wanita pun menjawab, "Aku ingin membunuhmu,"

Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Allah tidak akan memberikan kemampuan kepadamu atasku,"

Lalu Anas ra berkata, "Para sahabat berkata, 'Biarkan kami membunuhnya!'. Rasulullah bersabda, 'Jangan!'"

Anas ra kemudian menambahkan, "Aku melihat sisa racun itu di langit-langit mulut Rasulullah saw," (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam kitab Mausu'ah min Akhlaqir Rasul, Syekh Mahmud Al-Mishri mengatakan bahwa memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai antarsesama. Menurut Syekh Mahmud, Allah Swt akan selalu memberi pertolongan kepada kita selama memiliki sifat memaafkan dan kebaikan, sebab memaafkan adalah ciri-ciri dari orang yang bijak.

Sikap saling memaafkan merupakan akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah saw kepada umatnya. Abdullah Al-Jadali berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah ra tentang akhlak Rasulullah saw. Lalu ia menjawab, 'Beliau bukanlah orang yang keji (dalam perkataan ataupun perbuatan), suka kekejian, suka berteriak di pasar-pasar atau membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan beliau adalah orang yang suka memaafkan,'" (HR Tirmidzi; hadis sahih).[]