Ekonomi

Teknologi Metaverse Mampu Beri Peluang Keuntungan Bagi Industri Perbankan

Pengalaman imersif yang ditawarkan metaverse bisa dikemas oleh perbankan sebagai new experience bagi nasabahnya yang bermuara pada customer satisfaction.


Teknologi Metaverse Mampu Beri Peluang Keuntungan Bagi Industri Perbankan
Ilustrasi metaverse. (pixabay.com/tumisu)

Kini istilah metaverse sedang ramai diperbincangkan. Lalu, apa sebenarnya metaverse itu? Metaverse sendiri bukanlah istilah baru dalam dunia teknologi dan sains.

Istilah ini pertama kali muncul dalam sebuah novel science fiction berjudul Snow Crash karya Neal Stephenson yang dirilis pada tahun 1992. Secara umum metaverse merupakan ruang virtual yang menghadirkan internet semakin terasa nyata.

Diciptakan dengan menggabungkan antara realita fisik dengan ruang virtual. Sebelum perkembangan teknologi yang pesat seperti sekarang, konsep dari Metaverse sudah banyak dikembangkan. Misalnya pada tahun 1995 sebuah game bernama Active Worlds dihadirkan. 

baca juga:

Founder & Managing Director Shinta VR Andes Rizky menilai industri perbankan akan menjadi salah satu industri yang paling diuntungkan dengan kehadiran teknologi metaverse. Hal ini lantaran pengalaman imersif yang ditawarkan metaverse bisa dikemas oleh perbankan sebagai new experience bagi nasabahnya yang bermuara pada customer satisfaction.

"Kenapa? Karena pengalaman imersif yang ada pada metaverse mampu menciptakan pengalaman baru (new experience) yang mendalam sehingga bisa memuaskan pelanggan (customer satisfaction)," ujar Andes.

Satu studi, lanjut Andes, mengungkapkan bahwa pengalaman baru membuat pelanggan lebih bahagia daripada obyek fisik. Perusahaan yang lebih memprioritaskan pengalaman daripada produk/fitur memiliki kemungkinan rujukan 200 persen lebih besar dan loyalitas pelanggan 25 persen lebih banyak.

" Teknologi metaverse dengan pengalaman imersifnya mampu mengaburkan batas antara kenyataan dan dunia virtual. Nah, saya kira, bank tak perlu lagi menunggu dalam keraguan, sebab di metaverse ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan bank," tutur Andes.

Beberapa peluang itu antara lain bank dapat mencoba menjangkau nasabah baru yang tidak dapat (atau tidak mau) pergi ke cabang dan masih menawarkan pengalaman yang imersif.

Survei terkait kebiasaan nasabah perbankan ketika masa pandemi yang dipublikasikan MarkPlus, Inc. (2020) menyebutkan intensitas komunikasi antara bank dan nasabah cenderung mengalami penurunan di masa pandemi virus corona (Covid-19).

" Pengalaman imersif mampu mengaburkan batasan antara dunia nyata dengan dunia digital atau dunia simulasi, sehingga penggunanya bisa merasakan suasana yang mirip dengan dunia nyata. Di metaverse aktivitas transaksi sederhana seperti pengiriman uang dapat dikelola di jendela teller bisa juga diwujudkan, sementara avatar karyawan di dalam ruang VIP virtual dapat membantu klien menganalisis atau merancang portofolio investasi bagi pelanggan. Ini bisa menjadi new experience tersendiri bagi nasabah," kata Andes.

Senada, pakar transformasi digital Bayu Prawira Hie mengatakan, teknologi metaverse sangat tepat digunakan bank-bank yang punya layanan priority banking atau private banking.

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.
Sumber: Warta Ekonomi