Ekonomi

Tekan Stunting, Perlunya Kendalikan Konsumsi Rokok

Diperlukan adanya pengendalian konsumsi rokok sebagai upaya dalam percepatan penurunan stunting


Tekan Stunting, Perlunya Kendalikan Konsumsi Rokok
Melinting tembakau rokok kretek khas Temanggung (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Diperlukan adanya pengendalian konsumsi rokok sebagai upaya dalam percepatan penurunan stunting. Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyatakan paparan asap rokok meningkatkan risiko stunting pada anak berusia 25-59 bulan sebesar 13.49 kali.

Selain itu, paparan asap rokok meningkatkan terjadinya ectopic pregnancy dan sudden infant death syndrome.

"Stunting merupakan permasalahan gizi nasional yang harus mendapatkan perhatian khusus, termasuk mengendalikan konsumsi rokok yang juga berhubungan dengan seorang anak menjadi stunting, " ujar Hasto.

baca juga:

Sejalan dengan hal tersebut, Aryana Satrya, selaku Ketua PKJS-UI menyampaikan bahwa perilaku merokok orang tua juga berpengaruh terhadap intelegensi anak secara tidak langsung (dampak dari stunting). Sedangkan Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada tahun 2030.

Bonus demografi tidak bisa dimanfaatkan jika kesehatan anak dan pemuda buruk.

Lebih lanjut, Deputi Latbang menambahkan konsumsi rokok diketahui merupakan penyebab stunting, baik secara langsung melalui paparan asap rokok pada anak sejak masa kandungan, maupun secara tidak langsung dimana rokok juga berdampak buruk pada ekonomi keluarga yaitu belanja rokok mengurangi biaya belanja makanan bergizi.

BKKBN pada tingkat provinsi hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK) memiliki andil penting dalam meneruskan kampanye edukasi ini kepada masyarakat dalam mendukung program percepatan penurunan stunting. Salah satu pembicara dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo, Bernie Endyarni Medise, menjelaskan terdapat kaitan antara perilaku merokok dengan kejadian stunting pada anak sejak dalam masa kandungan, yaitu orang tua perokok menyebabkan secondhand smoke yang memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak.

“Toxic rokok ini mempengaruhi prenatal dan postnatal, laki-laki yang program ingin punya anak berhenti dulu merokok selama 70 hari sebelum konsepsi karena toxic-nya bisa menurunkan kualitas sperma,” tambah Hasto.

Sedangkan dari sisi ekonomi, rokok juga menghabiskan sebagian pendapatan keluarga.