Abiwodo

Abiwodo - praktisi perbankan
Ekonomi

Tekan Inflasi, BI Naikkan BI7DRR

Tekan Inflasi, BI Naikkan BI7DRR
Ilustrasi Bank Indonesia (BI) (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Di awal tahun 2023, Bank Indonesia (BI) mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bank sentral yang diselenggarakan pada 19 Januari 2023 dengan sejumlah keputusan dan yang cukup menjadi perhatian adalah keputusan menaikkan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps.

Dengan demikian, per Agustus 2022, pertumbuhan BI7DRR mencapai 225 basis poin, yang berperan menghalau inflasi inti stabil berada dalam kisaran 3,0±1% pada semester pertama 2023 sekaligus inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali ke dalam sasaran 3,0±1% pada semester kedua 2023.

Mungkin Anda bertanya-tanya 'makhluk' apa itu BI7DRR? Buat orang awam istilah itu belum akrab dengan telinga. Ijinkan saya sedikit jelaskan tipis-tipis “makhluk” apa itu BI7DRR sebelum masuk ke penjelasan lebih lanjut.

baca juga:

Seperti namanya, BI7DRR adalah kebijakan BI dalam penerapan suku bunga acuan yang berlaku di Indonesia saat ini. Atau dulu disebut BI rate. 

Nah saat masih diberlakukan istilah BI rate, bukan berarti masalah selesai ketika BI rate turun/naik. Uang yang dipegang bank umum di BI tidak bisa langsung ditarik. Bank harus menunggu setahun sebelum mereka dapat menarik uangnya. Oleh karena itu jumlah uang beredar tidak segera bertambah, begitu juga sebaliknya. Jika BI menaikkan BI rate, inflasi mungkin tidak akan langsung turun. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan cepat tercapai, tidak segera terkabul karena butuh waktu lebih lama untuk memulihkan.

Namun, sejak 19 Agustus 2016, BI mengganti istilah tersebut menjadi BI7DRR dengan tujuan agar pengelolaan suku bunga lebih efektif. Lembaga perbankan tidak lagi harus menunggu hingga satu tahun untuk mencairkan dananya. Bank dapat menarik uangnya setelah disimpan di BI selama 7 hari (mungkin 14 hari, 21 hari, dst).

Yang tentunya mempengaruhi kelancaran penyaluran kredit perbankan kepada masyarakat. Dengan perubahan suku bunga yang tiba-tiba, risiko gagal bayar pinjaman dapat diminimalkan. Pertumbuhan ekonomi yang diinginkan akhirnya segera tercapai.

Adanya BI7DRR bisa berpengaruh terhadap banyak bidang. Mulai dari perbankan, sektor riil, hingga pasar uang. Tak heran apabila publik sangat menaruh perhatian terhadap pergerakan kenaikan BI7DRR.

Dengan kenaikan 25 bps, maka BI7DRR menjadi 5,75%. Suku bunga Deposit Facility (DF) sebesar 5,00% dan suku bunga Lending Facility (LF) menjadi sebesar 6,50 %. 

Pada dasarnya, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi BI untuk menaikkan BI7DRR. Selain inflasi, pertimbangan menaikkan BI7DRR juga upaya memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dengan mengantisipasi kenaikan suku bunga global. Supaya hasil yang diperoleh lebih optimal dan cepat, harus diikuti dengan serangkaian langkah lainnya.

Langkah tersebut seperti melahirkan kebijakan terkait dengan upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah. Kebijakan ini terus diperkuat dengan tujuan untuk mengendalikan inflasi barang impor. Dirasa efektif untuk dilakukan dalam mendukung tujuan kenaikan bunga BI7DRR. Mengapa demikian? Lantaran langkah tersebut bisa mengurangi dampak buruk dari kuatnya dolar AS.

Ada hal lain? Jelas ada. Langkah ini juga berkaitan dengan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Ingat! Saat ini dunia juga tengah dilanda resesi perekonomian. Apabila segala upaya tersebut tak dilakukan dengan baik, maka bisa mengganggu ketahanan perbankan dan berbagai sektor lainnya di Indonesia.

Rasanya langkah tepat pemerintah menaikkan BI7DRR, kebijakan ini ditempuh sekaligus mengantisipasi jelang rapat Federal Reserve pada 1 Februari 2023 mendatang. 

Dampak Kenaikan BI7DRR Terhadap Ketahanan Perbankan

Ada banyak dampak yang ditimbulkan dari kenaikan bunga BI7DRR terhadap ketahanan perbankan. Anda pasti penasaran bukan apa saja dampaknya?

Salah satu dampaknya, bank akan menyesuaikan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK)-prime lending rate alhasil bank semakin berat dalam penyaluran kredit. Penyaluran kredit dapat terpuruk dan membuat pertumbuhan sektor riil terhambat. Bahkan juga bisa memicu penurunan peluang terbukanya lapangan kerja baru.

Disamping itu, biaya kreditnya akan mengalami peningkatan. Pembengkakan biaya ini sebenarnya dampak langsung dari kebijakan moneter yang semakin ketat. Di sisi lain, masyarakat cenderung lebih memilih menabung untuk mengalokasikan uang. Kalo sudah begini, diharapkan perputaran uang di masyarakat melemah yang pada akhirnya dapat menekan inflasi.

Berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan, sebenarnya pemerintah dan BI tengah menjalin kerjasama untuk daur ulang devisa hasil dari ekspor. Langkah ini bisa berefek positif pada mata uang Rupiah untuk menurunkan inflasi hingga 4,0% di akhir tahun.

Pada dasarnya, ada banyak upaya penting untuk menyikapi kenaikan BI7DRR. Kenapa hal ini penting? Jelas penting, sebab bisa meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan sekaligus membangun dampak positifnya.

Kenaikan bunga BI7DRR membuat bank memberikan biaya lebih mahal, pun masyarakat cenderung mengurangi kredit atau pinjaman bank. Alih-alih deposan justru meningkat.

Kenaikan bunga BI7DRR nyatanya berdampak pada berbagai bidang kehidupan. Tak terkecuali pula berdampak terhadap ketahanan perbankan. Akan tetapi jika kita mampu menyikapinya dengan baik, maka dampak buruknya bisa diminimalisir seoptimal mungkin.

Sebagai pihak yang mengendalikan fluktuasi nilai rupiah, pengendalian inflasi dan kebijakan moneter lainnya, BI berperan penting dalam menetapkan pedoman BI rate yang kini namanya menjadi BI7DRR untuk menjaga stabilitas (pro-stability). Kebijakan tersebut berdampak besar terhadap perekonomian nasional secara umum. Dengan memahami peran BI7DRR dalam perekonomian nasional, kita dapat mengambil keputusan dan pilihan yang tepat terhadap perubahan sistem keuangan negara.