Tech

Tekan Harga Mobil Listrik, ITB Kembangkan Teknologi Baterai Berbasis Nikel

Teknologi beterai untuk mobil listrik masih bisa terus dikembangkan.


Tekan Harga Mobil Listrik, ITB Kembangkan Teknologi Baterai Berbasis Nikel
Stasiun pengisian daya mobil listrik. (pixabay.com/akrebs60)

AKURAT.CO Teknologi baterai yang saat ini digunakan sebagai bahan bakar mobil listrik masih bisa terus dikembangkan. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen sekaligus Peneliti dari Program Studi Teknik Material Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Afriyanti Sumboja. 

Ia juga mengatakan kalau baterai pada mobil listrik masih memiliki banyak keterbatasan dari segi kinerjanya, seperti kapasitas energi yang relatif kecil dan harga material baterai yang sangat mahal. Kinerja baterai sendiri dipengaruhi oleh dua aspek, yaitu densitas daya dan densitas energi. Afriyanti jika permasalahan yang selama ini dimiliki baterai dapat diatasi.

"Saat melihat performa baterai, ada dua aspek yang bisa kita tinjau, yaitu densitas daya dan densitas energi. Densitas daya merupakan kemampuan kecepatan baterai dalam menghantarkan energi, sementara densitas energi adalah banyaknya energi yang dapat disimpan oleh baterai," ujar Afriyanti, dilansir dari laman resmi ITB.

Masih menurutnya, baterai sendiri merupakan seperangkat alat yang terdiri dari katoda, anoda, larutan elektrolit, dan separator. Katoda adalah oksida logam yang biasanya mengandung bahan baku zat litium, sedangkan anoda adalah senyawa logam yang biasanya terbuat dari karbon. 

Pada penerapannya, baterai yang menggunakan litium sebagai bahan baku pembuatan katoda kurang memiliki kapasitas energi yang tinggi. Oleh karena itu, penggunaan mobil listrik yang menggunakan bahan bakar baterai ini tidak begitu efektif karena jarak tempuhnya yang relatif kecil. Atas dasar itu, Afriyanti bersama peneliti lain mengusulkan nikel sebagai bahan baku pengganti untuk pembuatan katoda baterai.

Nikel merupakan salah satu unsur yang memiliki kelebihan dalam menghasilkan kapasitas energi yang tinggi akibat reaksi reduksi atau okdisasi yang terjadi. Meskipun begitu, sisi negatif atau kekurangan dari Nikel, yaitu tidak stabil, sehingga perlu bantuan unsur lain pada proses pembuatannya. Unsur pelengkap bahan baku pembuatan katoda bisa menggunakan Mn dan Co. Di mana kedua unsur tersebut memiliki sifat yang stabil sehingga bisa mengatasi kekurangan dari Nikel. 

Sementara itu, untuk pembuatan katoda dengan bahan baku Nikel membutuhkan komposisi yang tepat supaya produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. 

"Hingga saat ini, jenis baterai yang dikembangkan dengan material ini memiliki dua tipe, yaitu NCA dan NCM. Kedua tipe ini digolongkan berdasarkan jenis unsur material digunakan, misalkan NCM yang terbuat dari nikel, cobalt, dan mangan," ujar Afriyanti.

Afriyanti juga menegaskan bahwa, perkembangan teknologi baterai di masa depan akan semakin meningkat pesat karena kebutuhan energi di alam semesta cukup beragam. Kemudian, semua orang di muka bumi ini, pasti menginginkan suatu teknologi baterai yang aman, tahan lama, cepat dalam pengisian daya, dan tentunya dapat dibuat dengan biaya yang relatif murah.

Teknologi baterai sendiri akan terus berkembang karena kebutuhan terhadap energi makin beragam bentuknya. Adapun faktor-faktor yang dapat memengaruhi perkembangan teknologi baterai, yaitu densitas energi, biaya, keamanan, cycle life, dan charge rate.