News

Teh Dikira Sabu, Polisi Australia Penjarakan Ibu dan Anak Asal Malaysia 

Teh Dikira Sabu, Polisi Australia Penjarakan Ibu dan Anak asal Malaysia 


Teh Dikira Sabu, Polisi Australia Penjarakan Ibu dan Anak Asal Malaysia 
Ibu dan anak asal Malaysia itu menghabiskan waktu di penjara bahkan setelah polisi mengetahui bahwa tidak ada obat dalam kemasan yang disita (Mothership)

AKURAT.CO, Nasib miris terpaksa dialami oleh seorang ibu asal Malaysia dan anak perempuannya. Dilaporkan keduanya dijebloskan di penjara Australia selama empat bulan karena dituduh telah mengimpor amfetamin atau yang dikenal sebagai sabu-sabu ke negara itu.

Namun, setelah menghabiskan waktu di penjara, pihak berwenang ternyata salah mendakwa. Terungkap amfetamin yang dituduhkan ternyata hanyalah teh jahe coklat biasa.

Diwartakan Mothership hingga Sydney Morning Herald (SMH), kasus bermula ketika Vun Pui 'Connie' Chong dan putrinya, San Yan Melanie Lim, berusaha mengimpor 25 kilogram teh jahe coklat ke Australia. Teh itu sudah dikenal di Malaysia sebagai obat untuk nyeri haid, dan rencananya akan dijadikan sebagai modal usaha untuk Chong.

Berhasil dipesan, Chong dan putrinya mendapatkan lima kardus persegi panjang dengan masing-masing berisi 24 bungkus paket. Oleh Chong, teh itu akan dijual dengan harga lebih tinggi dengan tafsiran keuntungan AUD90 (Rp923,5 ribu) per kardus.

Namun, belum sampai datang ke rumah, produk teh herbal itu sudah dicegat oleh petugas dari Pasukan Perbatasan Australia (ABF). Produk itu kemudian disita pada 17 Januari di bandara Sydney. Petugas mengmengidentifikasinya sebagai phenmetrazine, stimulan ilegal yang biasa digunakan untuk tujuan rekreasi.

Setelah penyitaan, ABF melacak alamat pengiriman dan langsung menggerebek rumah Chong. Dari situ, petugas dilaporkan menemukan lebih banyak paket yang diduga sebagai obat-obatan terlarang. 

Baik Chong dan Lim kemudian didakwa dengan pasokan obat-obatan komersial, dengan hukuman penjara seumur hidup.

-Polisi tahu kesalahannya-

Teh Dikira Sabu, Polisi Australia Penjarakan Ibu dan Anak asal Malaysia  - Foto 1
Connie Chong mengiklankan teh yang dia impor dari Malaysia melalui media sosial-File Instagram via SMH

Selama sidang pada 16 November, pengadilan mendengar bahwa dalam beberapa minggu setelah penyitaan, polisi mengetahui bahwa ada beberapa masalah dengan identifikasi obat. Namun, mereka tidak menyampaikan informasi tersebut kepada tim pembela Chong dan Lim. Dalam proses penyelidikan, pihak berwenang juga tidak memberikan jaminan sehinggga Chong dan anaknya tetap dibui.

Kemudian pada April, seorang petugas ABF memberi tahu detektif Tara Conaghan bahwa dari hasil laboratorium mereka, terungkap bahwa tidak ada zat terlarang dalam kemasan teh tersebut.

"Singkatnya, kami tidak dapat mengambil dari hasil ABF ini bahwa sampel mengandung atau tidak mengandung phenmetrazine," bunyi email tersebut.

Menurut petugas, phenmetrazine hanya diidentifikasi sebagai zat keempat yang paling mungkin terkandung dalam produk teh setelah gula, sukrosa, dan gula bubuk.

Pengacara Chong kemudian meminta pemeriksaan silang yang melibatkan detektif Conaghan. Namun, dalam pemeriksaan itu, Conaghan tetap diam ketika ditanya mengapa dia tidak memberi tahu Chong dan Lim bahwa paket itu tidak berisi barang terlarang.

Pengadilan Lokal Downing juga telah mendengar pada Selasa (23/11) bahwa tes obat yang digunakan oleh ABF untuk mengidentifikasi zat terlarang hanya menghasilkan spektrum zat serupa dengan yang terdeteksi di kemasan teh. Sementara Polisi Federal Australia tidak mengandalkan hasil itu untuk melakukan penyelidikan. Karenanya ibu dan anak itu masih menghabiskan waktu di penjara meski polisi sudah mengetahui bahwa tidak ada obat dalam kemasan yang disita.

-Gugatan-

Chong dan dan anak perempuannya dibebaskan pada bulan Mei. Namun, tuduhan mereka baru ditarik pada bulan Agustus setelah pihak berwenang mengonfirmasi tidak ada bahan yang dilarang.

Menurut SMH, keduanya kini menggugat kejaksaan untuk biaya hukum. Namun, Direktur Penuntutan Umum Persemakmuran (CDPP) telah menolak untuk membayar kerugian mereka. Sidang kasus berikutnya ditunda hingga Maret 2022. []