Rahmah

Tegas! Abu Nawas Tolak Jabatan Tinggi di Kerajaan, Ternyata Ini Alasannya

Baginda Raja bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi qadi atau penghulu menggantikan jabatan ayahnya.


Tegas! Abu Nawas Tolak Jabatan Tinggi di Kerajaan, Ternyata Ini Alasannya
Ilustrasi Abu Nawas (pinterest.com)

AKURAT.CO  Siapa yang tak mengenal Abu Nawas, sosok penyair cerdik yang dikenal memiliki selera humor tinggi ini begitu masyhur di kalangan umat Islam.  Meskipun tingkahnya yang nyeleneh, tetapi Abu Nawas merupakan seorang yang cerdas.

Hingga kini, nama Abu Nawas begitu familiar di kalangan umat Muslim lantaran banyak kisah-kisah lucu nan inspiratif dari penyair yang satu ini. Salah satunya adalah kisah yang dilansir dari laman NU Online ini.

Dalam kehidupannya, Abu Nawas memiliki seorang ayah bernama Syekh Maulana merupakan penghulu kerajaan. Ia dikenal sangat setia mengabdi kepada Baginda Raja Harun Ar-Rasyid.

baca juga:

Akan tetapi, hidup Syekh Maulana diprediksi tidak lama lagi, mengingat ia sudah sepuh dan sering saki-sakitan. Karena kondisi itulah, Syekh Maulana meninggal dunia.

Disaat yang sama, Abu Nawas dipanggil oleh Baginda Raja Harun Ar-Rasyid ke istana. Abu Nawas diperintah Raja untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syekh Maulana.

Orang-orang sekitar kala itu melihat bahwa apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tak ada bedanya dengan ayahnya Qadi Maulana, baik mengenai tata cara memandikan jenazah, mengafani, menshalati, dan mendoakannya.

Oleh karena itu, Baginda Raja bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi qadi atau penghulu menggantikan jabatan ayahnya. Hal tersebut karena menurut Baginda, Abu Nawas adalah sosok yang tepat menggantikan ayahnya itu.

Namun rencana pengangkatan Abu Nawas sudah diketahui oleh dirinya. Ternyata ia sama sekali tidak menginginkan jabatan tersebut karena tidak mau terlalu terikat dengan kerajaan. Karena jabatan tersebut akan mengurangi interaksinya dengan rakyat jelata setiap hari.

Singkatnya, Abu Nawas menolak jabatan tersebut. Karena tidak ingin lancang dengan menolak Baginda Raja, Abu Nawas tiba-tiba berubah menjadi seperti orang gila.

Setelah upacara pemakaman ayahnya, Abu Nawas mengambil sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda.

Ia lalu menunggang kuda dari batang pohon pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Semua orang dibuat heran dengan tingkahnya itu. Bahkan kebanyakan dari mereka mengira bahwa Abu Nawas sudah hilang kewarasan atau gila.

Esok harinya, Abu Nawas mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam sang ayah. Di atas makam ayahnya itu, ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.

Hal tersebut tentu saja membuat smua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu. Mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi orang gila karena ditinggal mati oleh sang ayah. []