News

Tarian Keraton Yogya, Panahan, hingga Thiwul jadi Warisan Budaya Tak Benda

Tarian Keraton Yogya, Panahan, hingga Thiwul jadi Warisan Budaya Tak Benda
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan Sapa Aruh Jaga Warga di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kota Yogyakarta, Selasa (9/2/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Sebanyak 26 kearifan lokal yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai dari kesenian tradisi hingga ragam kuliner ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Puluhan kearifan lokal itu sebelumnya telah diajukan ke Kemendikbudristek dan kini menjadi WBTB tahun 2021 lengkap beserta sertifikat karya budaya yang diserahkan melalui sidang penetapan WBTB Indonesia 2022 di Hotel Alana, Sleman.

Adapun kearifan lokal di DIY yang telah ditetapkan menjadi WBTB tahun 2021 ini di antaranya milik Keraton Yogyakarta, yakni Beksan Lawung Alit domain seni pertunjukan; Labuhan Merapi domain upacara adat ritus upacara tradisional; Sengkalan domain tradisi dan ekspresi lisan. 

baca juga:

Beksan Inom dan Bedoyo Angron Akung dari domain seni pertunjukan adalah karya-karya budaya menjadi WBTB milik Puro Pakualaman.

Selain itu, makanan thiwul domain kemahiran dan kerajinan tradisional tradisi, Wiwitan Panen Padi domain pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta. Ada juga Motif Batik Yogyakarta domain tradisi dan ekspresi lisan dan Upacara Adat Taraban domain upacara adat ritus upacara tradisional.

Beberapa karya budaya lain yang menjadi WBTB 2021 antara lain lemper, nyadran agung Makam Sewu, upacara adat Gumregan, kerajinan perak Kotagede, jemparingan (panahan tradisional), metode belajar Saliswara Ki Hadjar Dewantara, dan lain sebagainya.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak seluruh pihak agar tertib melakukan pendataan terhadap karya budaya yang dihasilkan demi memudahkan pendaftarannya menjadi WBTB di masa mendatang.

Ajakan ini berdasarkan pengalaman DIY yang kesulitan mengumpulkan data pendukung karya budaya yang akan didaftarkan sertifikat WBTB dari Kemendikbudristek RI.

"Dari yang diajukan (DIY) yakni 700 lebih karya budaya, akhirnya yang bisa dibahas hanya 200 saja. Dengan pengalaman ini kami punya harapan, baik di Jogja maupun di provinsi lain, bisa dari awal ada kemauan untuk mencatat produk-produk yang dihasilkan oleh generasi terdahulu maupun sekarang, untuk memberikan kemudahan jika ingin didaftarkan," kata Sultan dalam Perayaan WBTB DIY Tahun 2022 di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta Selasa (27/9/2022). 

Menurutnya, pendataan karya budaya penting dilakukan jika berniat menjadikan karya yang diciptakan sebagai produk peradaban di zamannya itu, sebagai catatan sekaligus kekayaan di masa depan.

Baginya, produk kebudayaan pada dasarnya tumbuh sesuai dengan tantangan zaman dan generasinya karena karya kebudayaan adalah karya dinamis.

"Dan pelestarian serta pengembangan budaya-budaya ini dapat menjadi sebagai dasar ketahanan bangsa dan negara di masa depan. Untuk itu kami juga berharap bisa membangun kerja sama dengan provinsi dalam upaya bersama menumbuhkembangkan produk-produk karya manusia sebagai produk kebudayaan dan peradaban tetap relevan dengan tantangan zaman dan menjadi kekuatan di masa depan," paparnya.

Sementara Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Irjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI, Yudi Wahyudin mengatakan, penetapan WBTB melingkupi mulai dari perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, hingga pembinaan.

Kegiatan penetapan ini sendiri diawali dari hulu sampai hilir, yakni pendataan, penelitian, pengkajian, verifikasi sampai pengecekan lapangan dan seterusnya.

"Beberapa objek memang sebagian pelakunya sudah wafat, tetapi kita eksplorasi sampai didapatkan data yang valid dan sah untuk diajukan ke tim ahli WBTB. Penetapan ini bermakna tidak hanya kehadiran pemerintah dalam rangka melindungi WBTB, tetapi juga sebagai upaya kami untuk mengumpulkan sumber daya budaya sebagai aset bangsa," jelasnya.

Yudi menuturkan, data kebudayaan yang valid bisa mendukung dunia pendidikan, penguatan pendidikan karakter dan bisa juga dijadikan data sumber-sumber penelitian, atau menjadi inspirasi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, termasuk untuk wisata budaya dan diplomasi budaya. 

Menurutnya, DIY merupakan salah satu lokus yang bisa dijadikan role model karena sudah melakukan serangkaian kegiatan penetapan WBTB.

"DIY bahkan sudah menindaklanjuti apa yang sudah ditetapkan. Saat ini di wilayah DIY ada 134 WBTB yang sudah ditetapkan di peringkat nasional. Dan saat ini sedang diusulkan 22 objek lainnya, yang mudah-mudahan sudah valid datanya sehingga dapat segera ditetapkan," pungkasnya. []