Lifestyle

Tari Gantar, Tari Muda-Mudi Kalimantan Timur dengan Sejarah Panjang

Tari Gantar khas Kalimantan Timur merupakan tarian pergaulan antara muda mudi, yang berasal dari Suku Dayak Benuaq dan Tunjung di Kabupaten Kutai Barat


Tari Gantar, Tari Muda-Mudi Kalimantan Timur dengan Sejarah Panjang
Ilustrasi penari tari gantar (Instagram/ve_elii25)

AKURAT.CO, Tari Gantar khas Kalimantan Timur merupakan tarian pergaulan antara muda mudi, yang berasal dari Suku Dayak Benuaq dan Tunjung di Kabupaten Kutai Barat. Tari ini dilakukan bergantian antara masyarakat Suku Dayak Tunjung dan Benuaq.

Dikutip dari laman resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, tari Gantar menjadi bagian dari upacara adat, yaitu Nguku Tahun. Bagi Suku Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung, tarian ini memiliki kedudukan yang penting karena berhubungan dengan kesuburan dan sarana upacara Nguku Tanu.

Dalam perkembangannya, tari Gantar dilakukan juga untuk menyambut tamu-tamu yang datang ke Kalimantan Timur. Tarian ini juga dilambangkan kegembiraan dan keramahan suku Dayak dalam menyambut tamu, baik sebagai wisatawan, investor atau para tamu yang dihormati. Di mana tamu-tamu yang datang diajak untuk ikut menari bersama penari.

Tongkat panjang yang digunakan dalam tari Gantar bermakan sebagai kayu yang digunakan untuk melubangi tanah pertanian dan bambu pendek sebagai tabung benih padi yang siap ditaburkan pada lubang tersebut. Tari ini mengambarkan muda-mudi secara suka cita menarikan tari dengan harapan panen akan berlimpah. 

Awal mulanya terciptanya tari gantar berhubungan dengan mitos yang berkembang di masyarakat suku Dayak, daerah Kutai Barat, provinsi Kalimantan Timur. Mitos tersebut menceritakan tentang kehidupan para Dewa di Negeri atas langit yang bernama Negeri Oteng Doi.

Tarian ini muncul sebagai salah satu buntut prahara di dalam keluarga Oling Besi dan Oling Bayatn. Mulanya, Oling Besi dibunuh oleh Dolonong Utak yang bermaksud merebut dan menikahi istrinya.

Kemudian karena rasa takut, Dolonong Utak diterima sebagai suami untuk menggantikan posisi Oling Besi yang sudah terbunuh. Namun, kedua putri Oling Besi yang bernama Dewi Ruda dan Dewi Bela tidak bisa menerima kenyataan tersebut lalu melakukan aksi balas dendam.

Dolonog Utak berhasil dibunuh oleh Dewi Ruda dan Dewi Bela menggunakan senjata sumpit. Sebagai bentuk kebahagiaan, kedua Dewi tersebut menarikan sebuah tarian dengan alat musik yang berasal dari bambu berisi biji-bijian.

Kejadian itu diketahui seorang manusia bernama Kilip, yang kemudian melakukan kesepakatan dengan sang Dewi untuk tidak memebeberkan peristiwa itu, dengan syarat tarian tersebut diajarkan padanya.

Dari situlah, tarian ini mulai berkembang secara turun temurun di kalangan suku Dayak Tunjung dan Dayak Benuaq dengan nama tari gantar, karena menggunakan properti gantar (tongkat) sebagai representasi sumpit.

Sementara itu, dirangkum dari Ensiklopedia Musik dan Tari Daerah di Kalimantan Timur (1978), terdapat kategori-kategori tari Gantar. Tarian Gantar bisa dibagi menjadi tiga kategori, antara lain: 

Gantar Rayatan 

Dalam tari Gantar Rayatan alat yang digunakan hanya satu, yaitu kayu yang panjang. Pada ujung tongkat diikatkan tengkorak manusia yang dibungkus dengan kain merah dan dihiasi dengan Ibus. Kemudian penari berkeliling sambil menyanyi, dipinggang penari terikat mandau.

Gantar Busai 

Tarian ini membawa sepotong bambu yang diisi dengan biji-bijian yang dipegang tangan sebelah kanan sedangkan kiri dalam keadaan tangan kosong. Ketika menari, tangan kosong melambai-lambai sesuai irama, dan bambu juga digerakkan sehingga keluar bunyi gemerincing. Jumlah bambu atau gantar sesuai dengan jumlah penarinya. 

Gantar Kusak 

Dalam tarian ini penari menggunakan dua peralatan, yaitu senak ata tongkat yang dipegang pada tangan kiri dan kusak (bambu) berisi biji-bijian di tangan kanan.[]