Ekonomi

Target Lifting Minyak 1 Juta Barel, Sangat Ambisius?


Target Lifting Minyak 1 Juta Barel, Sangat Ambisius?
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), selaku operator di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) selaku induk usaha, mengumumkan kelanjutan penggunaan jack-up rig Hakuryu-14 di WK Mahakam. (Dokumentasi: Istimewa/Pertamina)

AKURAT.CO, Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto menyatakan target lifting minyak sebesar 1 juta barel per hari (bph) adalah sangat ambisius dan memerlukan kelembagaan yang kuat di sektor hulu migas Tanah Air.

"Tidak cukup lembaga sementara seperti SKK Migas, yang tidak memiliki otoritas bagi pengusahaan hulu migas untuk dapat mewujudkan target ambisius lifting minyak 1 juta bph pada tahun 2030," kata Mulyanto dikutip dari Antara, Minggu (7/2/2021).

Menurut Mulyanto, hal yang perlu dibenahi pemerintah dalam merealisasikan target lifting minyak 1 juta bph pada tahun 2030 adalah pembentukan lembaga khusus yang bertanggungjawab dalam urusan hulu migas.

Hal itu, ujar dia, karena SKK migas hanya bersifat sementara dan berupa satuan kerja di bawah Kementerian ESDM, maka diperlukan revisi UU Migas untuk mengakomodasi keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Badan Pelaksana Hulu Migas.

Ia juga mengingatkan bahwa target lifting minyak dalam APBN dalam tahun ke tahun justru turun terus.

"Target lifting minyak dalam APBN kita dari tahun ke tahun terus melorot. Tahun 2019 target lifting minyak ini sebesar 775 bph. Lalu turun menjadi 755 bph pada tahun 2020. Kemudian kembali turun pada tahun 2021 menjadi 705 bph," tutur Politisi PKS itu.

Sementara realisasinya, masih menurut Mulyanto, setiap tahun tidak mencapai target APBN secara 100 persen sehingga dapat disebut bahwa target lifting minyak sebesar 1 juta bph pada tahun 2030 memang adalah target yang sangat ambisius.

Ia berpendapat bahwa seharusnya jangan malu untuk menghitung ulang besaran target itu agar lebih realistis.

Faktor lain yang disorot Mulyanto terkait target lifting ini adalah soal investasi migas yang masih minim. Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tentang nilai investasi migas tahun 2020 memperlihatkan terjadinya penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Menurut Menteri ESDM Arifin Tasrif, sepanjang tahun 2020 realisasi investasi sektor ESDM, yang didominasi sektor migas, mencapai angka hanya 24,4 miliar dolar AS. Padahal, tahun 2019 lalu realisasi investasi ini mencapai 33,2 miliar dolar, atau berarti turun 26,5 persen year on year (yoy).[]

Sumber: ANTARA