Ekonomi

Tanpa Inovasi Teknologi, Daya Saing Industri Gula RI Akan Tetap Rendah

CIPS: Pemerintah perlu meningkatkan daya saing industri gula nasional. Kurangnya daya saing merupakan permasalahan gula nasional yang belum berhasil dibenahi.


Tanpa Inovasi Teknologi, Daya Saing Industri Gula RI Akan Tetap Rendah
Petani menaikkan tebu ke atas truk saat panen di kawasan Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (26/9). Petani tebu mengeluhkan rendahnya harga acuan gula petani atau harga pembelian pemerintah (HPP) pabrik gula sebesar Rp9.700 per kg yang dinilai masih di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP) sebesar Rp10.600 per kg. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/aww/17.)

AKURAT.CO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan pemerintah perlu meningkatkan daya saing industri gula nasional. Kurangnya daya saing merupakan salah satu permasalahan gula nasional yang belum berhasil dibenahi.

Peneliti CIPS Arumdriya Murwani mengatakan, kurangnya salah satu daya saing menyebabkan produksi gula dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Hal ini pada akhirnya berdampak pada kelangkaan yang menyebabkan fluktuasi harga.

“Target pemerintah untuk membangun 15 pabrik gula pada periode 2020-2024 akan sulit tercapai tanpa adanya riset dan inovasi teknologi. Riset dan inovasi teknologi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas gula, menekan biaya produksi dan meningkatkan kapasitas produksi dengan cara yang lebih efisien,” jelasnya lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (2/4/2021).

Arum menambahkan, polemik impor gula yang saat ini sedang terjadi tidak lepas dari kurangnya daya saing industri gula nasional. Rencana pemerintah untuk mengimpor gula untuk menjaga ketersediaan dan kestabilan harga gula diprotes oleh pemangku kepentingan gula domestik.

Sebagaimana pernah disampaikan Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi, pemerintah memperkirakan bahwa kebutuhan gula untuk periode Januari-Mei 2021 mencapai 1.218.964 ton. Stok sisa Desember 2020 yang berjumlah 804.685 ton.

Sementara itu, produksi dalam negeri yang diprediksi akan mencapai 135.795 ton akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan gula sampai bulan Mei 2021. Selisih antara kemampuan pengadaan stok gula dalam negeri dengan prediksi kebutuhan gula, sebesar 278.484 ton, akan dipenuhi oleh impor.

Pemerintah berencana mengimpor gula untuk kebutuhan konsumsi sebanyak 646.944 ton untuk memenuhi kebutuhan gula di periode ini. Jumlah impor yang jauh lebih besar dari kebutuhan inilah yang menjadi dasar protes para pemangku kepentingan di sektor gula domestik. Hal ini dikarenakan musim giling tebu yang dimulai pada akhir Mei dan rencana penyaluran gula domestik ke pasar pada bulan Juni.

"Surplus gula impor dikhawatirkan akan mengganggu harga jual gula di pasaran dan merugikan petani tebu," katanya.

Arum menambahkan, upaya untuk meningkatkan daya saing industri gula dapat dimulai dengan revitalisasi alat produksi, pabrik dan modernisasi pertanian tebu. Hal ini penting untuk mengurangi biaya produksi dan pemrosesan gula.

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co