News

Tanggapi Seruan Penghentian Perang Korea, Adik Kim Jong-un: Syarat dan Ketentuan Berlaku

Menurut Kim Yo-jong, perang sulit diakhiri karena Korea Selatan sendiri yang terus memusuhi.


Tanggapi Seruan Penghentian Perang Korea, Adik Kim Jong-un: Syarat dan Ketentuan Berlaku
Bendera Korea Utara berkibar di atas menara desa propaganda Gijungdong pada 26 Agustus 2017. (Reuters)

AKURAT.CO, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in kembali menyerukan diakhirinya Perang Korea secara resmi saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Selasa (21/9). Di sisi lain, pejabat tinggi Korea Utara, Kim Yo-jong, menyebut bahwa seruan itu masih terlalu dini, meski pintu dialog terbuka.

Dilansir dari Reuters, Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, alih-alih perjanjian damai. Artinya, pasukan PBB yang dimpin Amerika Serikat (AS) secara teknis masih berperang dengan Korea Utara. Upaya untuk mengakhiri perang pun menemui jalan buntu ketika Korea Utara menolak untuk menyerahkan senjata nuklirnya.

Menurut adik Kim Jong-un, usulan Moon menarik dan mengagumkan, tetapi kondisinya tidak tepat karena Korea Selatan sendiri tak bisa memadamkan standar ganda, prasangka, dan permusuhannya.

"Dalam situasi semacam itu, tak masuk akal untuk menyatakan diakhirinya perang. Sebaliknya, itu mungkin akan menjadi benih perang karena pihak yang telah berselisih selama lebih dari setengah abad dibiarkan utuh," kata Kim Yo-jong pada Jumat (24/9).

Menurutnya, Korea Selatan harus mengubah sikapnya dan menciptakan situasi yang mendukung perundingan berarti tentang cara untuk mengakhiri konflik dan meningkatkan hubungan.

"Mereka perlu menghilangkan sikap kesepakatan ganda, prasangka tidak logis, kebiasaan buruk, dan sikap bermusuhan yang membenarkan tindakan mereka sendiri, sambil menyalahkan hak membela diri kita yang adil. Ketika prasyarat tersebut terpenuhi, mungkin ada peluang untuk duduk bersama dan menyatakan penghentian perang serta membahas hubungan utara-selatan dan masa depan semenanjung Korea," imbuhnya.

Korea Utara telah berusaha selama beberapa dekade untuk mengakhiri perang. Namun, AS enggan menyetujuinya, kecuali Korea Utara menyerahkan senjata nuklirnya.

Sementara itu, menurut Moon pada Jumat (24/9), ia yakin Korea Utara pada akhirnya akan menyadari pentingnya membuka kembali dialog dengan AS. Namun, ia tak yakin momen itu akan terjadi sebelum masa jabatannya berakhir tahun depan.

"Tampaknya Korea Utara masih mempertimbangkan pilihan sambil tetap membuka pintu perundingan. Pasalnya, upaya tersebut tak terlalu meningkatkan ketegangan dan dapat menjaga kontak dengan AS," tuturnya.

Dalam pidatonya di PBB, Presiden AS Joe Biden juga menyebut ingin diplomasi berkelanjutan untuk menyelesaikan krisis seputar program nuklir dan rudal Korea Utara.

Korea Utara telah menolak tawaran AS untuk berdialog. Kepala pengawas atom PBB pun pekan ini mengatakan bahwa program nuklir negara tersebut akan berjalan optimal. Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Thae-song mengatakan bahwa AS harus menghilangkan standar ganda dan kebijakan bermusuhan untuk memecahkan kebuntuan. []